
Pernah mendengar seseorang mendengkur keras saat tidur, kemudian tiba-tiba tidak terdengar suara napas selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali menarik napas dengan suara keras? Kondisi tersebut bukan sekadar kebiasaan tidur yang aneh. Dalam dunia medis, fenomena ini dapat menjadi salah satu tanda adanya gangguan pernapasan saat tidur atau sleep apnea.
Berbeda dengan kondisi ketika seseorang sengaja menahan napas, henti napas saat tidur dapat terjadi tanpa disadari. Bahkan, dalam satu malam, gangguan ini bisa berulang berkali-kali dan mengganggu proses istirahat tubuh.
Dan mengapa hal tersebut bisa terjadi? Padahal, ketika tidur, tubuh tetap membutuhkan oksigen untuk menjalankan fungsi organ. Untuk memahaminya, penting mengetahui bagaimana sistem pernapasan bekerja dan apa yang menyebabkan mekanisme tersebut terganggu.
Bagaimana Tubuh Mengatur Pernapasan Saat Tidur?

Pernapasan merupakan proses otomatis yang dikendalikan oleh sistem saraf, terutama bagian batang otak. Area ini berperan mengatur ritme napas agar tubuh tetap mendapatkan oksigen dan membuang karbon dioksida (CO₂).
Saat seseorang tidur, aktivitas tubuh memang mengalami perubahan. Otot-otot menjadi lebih rileks, frekuensi pernapasan dapat berubah, dan respons tubuh terhadap peningkatan karbon dioksida maupun penurunan oksigen juga mengalami penyesuaian.
Dalam kondisi normal, otak tetap mengirimkan sinyal kepada otot pernapasan, terutama diafragma, untuk berkontraksi. Gerakan ini membuat rongga dada mengembang sehingga udara dapat masuk ke paru-paru.
Meskipun demikian, perubahan aktivitas otot dan pengaturan pernapasan selama tidur dapat membuat sebagian orang lebih rentan mengalami gangguan aliran udara atau bahkan jeda pernapasan sementara.
Mengapa Napas Bisa Berhenti Saat Tidur?
Secara medis, henti napas berulang saat tidur dapat terjadi melalui beberapa mekanisme. Dua jenis yang paling dikenal adalah Obstructive Sleep Apnea dan Central Sleep Apnea.
Obstructive Sleep Apnea (OSA)
OSA terjadi ketika saluran napas bagian atas mengalami penyempitan atau penutupan sementara saat tidur. Kondisi ini umumnya berkaitan dengan relaksasi otot tenggorokan yang menyebabkan jaringan di sekitarnya menghalangi aliran udara.
Akibatnya, meskipun tubuh masih berusaha menarik napas, udara sulit masuk ke paru-paru. Kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang mendengkur keras, mengalami jeda napas, kemudian tersentak atau terbangun ketika aliran udara kembali terbuka.Central Sleep Apnea (CSA)
Berbeda dengan OSA, CSA bukan disebabkan oleh sumbatan saluran napas. Gangguan ini terjadi ketika otak sementara tidak mengirimkan sinyal yang memadai kepada otot pernapasan untuk mengatur napas.
Akibatnya, gerakan pernapasan dapat berhenti sementara karena otot pernapasan tidak menerima perintah yang diperlukan. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan pengaturan pernapasan oleh sistem saraf maupun kondisi medis tertentu, seperti gagal jantung atau penggunaan obat opioid.
Perbedaan Obstructive Sleep Apnea dan Central Sleep Apnea
Meskipun sama-sama menyebabkan napas berhenti sementara saat tidur, OSA dan CSA memiliki penyebab serta mekanisme yang berbeda.
| Aspek | OSA | CSA |
|---|---|---|
| Penyebab Utama | Saluran napas tersumbat | Gangguan sinyal dari otak |
| Aliran udara | Terhenti karena sumbatan | Terhenti karena tidak ada upaya napas |
| Gerakan dada | Biasanya tetap berusaha bernapas | Dapat berhenti sementara |
| Mendengkur | Sering terjadi | Tidak selalu terjadi |
| Mekanisme | Gangguan saluran napas atas | Gangguan pengaturan napas oleh otak |
Perbedaan ini penting karena penanganan kedua kondisi tidak selalu sama. Pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui jenis gangguan yang dialami seseorang.

Apa yang Terjadi pada Tubuh Ketika Napas Berhenti?
Ketika pernapasan terhenti, tubuh tidak langsung kehilangan seluruh oksigen. Namun, pertukaran gas di paru-paru terganggu sehingga kadar oksigen dalam darah dapat menurun, sementara karbon dioksida berpotensi meningkat.
Pada kondisi OSA, otak tetap berusaha mempertahankan pernapasan. Otot dada dan diafragma masih bekerja untuk menarik udara, tetapi aliran udara terhambat akibat saluran napas yang tertutup.
Ketika gangguan berlangsung, otak dapat memicu respons arousal, yaitu kondisi ketika seseorang mengalami kebangkitan singkat dari tidur. Respons ini membantu meningkatkan aktivitas otot saluran napas sehingga jalan napas kembali terbuka dan pernapasan berlanjut.
Proses tersebut bisa terjadi berulang kali sepanjang malam. Akibatnya, seseorang mungkin tidak menyadari bahwa tidurnya sering terganggu meskipun durasi tidurnya terlihat cukup.
Apa Faktor yang Meningkatkan Risiko Henti Napas Saat Tidur?
- Obesitas
- Struktur saluran napas yang sempit
- Usia
- Konsumsi alkohol dan obat penenang
- Kondisi medis seperti gagal jantung dan riwayat stroke
Apa Dampak Henti Napas Berulang Saat Tidur?
- Mengantuk berlebihan pada siang hari
- Sulit berkonsentrasi
- Sakit kepala saat bangun tidur
- Peningkatan resiko tekanan darah tinggi
- Peningkatan resiko penyakit jantung dan stroke
Baca artikel lainnya
Bagaimana Kondisi Ini Didiagnosis dan Ditangani?
Untuk mengetahui penyebab napas berhenti saat tidur, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan sleep study atau polisomnografi (PSG).
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memantau beberapa aktivitas tubuh selama tidur, seperti aliran udara pernapasan, gerakan dada dan perut, kadar oksigen dalam darah, detak jantung, serta aktivitas otak. Hasil pemeriksaan membantu menentukan jenis gangguan pernapasan sekaligus tingkat keparahannya.
Penanganan kemudian disesuaikan dengan penyebabnya. Pada OSA, salah satu terapi yang umum digunakan adalah Continuous Positive Airway Pressure (CPAP), yaitu alat yang mengalirkan udara bertekanan melalui masker untuk membantu menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur.
Sementara itu, penanganan CSA lebih bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Dokter dapat mempertimbangkan pengobatan kondisi medis pemicu, penggunaan terapi tekanan positif tertentu, atau pemberian oksigen pada indikasi tertentu. Tidak semua pasien CSA cocok menggunakan jenis alat bantu pernapasan yang sama.
Kesimpulan
Napas yang berhenti berulang kali saat tidur bukan kondisi yang boleh dianggap sepele. Gangguan ini dapat terjadi karena saluran napas mengalami penyumbatan seperti pada OSA, atau karena otak tidak mengirimkan sinyal pernapasan secara memadai seperti pada CSA. Mengenali gejala dan mengetahui penyebabnya merupakan langkah penting agar gangguan pernapasan dapat ditangani dengan tepat. Jika terdapat keluhan mendengkur keras, jeda napas saat tidur, atau rasa kantuk berlebihan pada siang hari, sebaiknya lakukan pemeriksaan medis untuk mendapatkan diagnosis yang sesuai.
Salah satu rekomendasi perangkat terapi untuk membantu menangani Obstructive Sleep Apnea (OSA) adalah CPAP. Beberapa pilihan produk seperti ResMed AirSense 10, ResMed AirSense 10 For Her, dan ResMed AirStart 10 yang dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan terapi dan rekomendasi tenaga medis. Produk-produk tersebut juga tersedia di Galeri Medika. Informasi lebih lanjut mengenai pilihan perangkat CPAP dapat dilihat melalui Galeri Medika.
https://www.nhlbi.nih.gov/health/sleep-apnea
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK578199
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/28162150


