
Pernahkah kamu mengalami tekanan darah yang tiba-tiba tinggi saat diperiksa dokter, padahal ketika mengukurnya sendiri di rumah hasilnya cenderung normal? Kondisi ini cukup sering terjadi dan terkadang membuat seseorang khawatir mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi.
Salah satu penyebabnya dikenal dengan istilah White Coat Effect atau efek jas putih. Kondisi ini menggambarkan peningkatan tekanan darah ketika seseorang berada di lingkungan pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit atau klinik, yang bisa dipengaruhi oleh rasa gugup, cemas, maupun ketegangan saat menjalani pemeriksaan.
Meskipun terlihat sederhana, kondisi ini tetap perlu diperhatikan. Pasalnya, hasil pengukuran tekanan darah yang hanya dilakukan sesekali belum tentu menggambarkan kondisi tekanan darah seseorang secara keseluruhan. Lantas, mengapa hal ini bisa terjadi dan bagaimana cara membedakannya dengan hipertensi? Simak penjelasannya berikut ini.

Apa Itu White Coat Effect?
White Coat Effect merupakan kondisi ketika tekanan darah seseorang menunjukkan angka lebih tinggi saat diukur oleh tenaga medis dibandingkan ketika diukur di luar lingkungan pelayanan kesehatan, seperti di rumah.
Istilah ini berkaitan dengan respons tubuh terhadap situasi yang membuat seseorang merasa gugup atau tegang. Kehadiran dokter, suasana rumah sakit, hingga kekhawatiran terhadap hasil pemeriksaan dapat memicu respons stres yang memengaruhi tekanan darah.
Dalam dunia medis, terdapat istilah lain yang berkaitan, yaitu White Coat Hypertension atau hipertensi jas putih. Keduanya memiliki perbedaan:
- White Coat Effect: Menggambarkan perbedaan tekanan darah yang lebih tinggi saat diperiksa di klinik dibandingkan di luar klinik. Istilah ini juga digunakan pada orang yang sedang menjalani pengobatan hipertensi.
- White Coat Hypertension: Kondisi ketika seseorang yang belum mengonsumsi obat antihipertensi memiliki tekanan darah tinggi saat diperiksa di klinik, tetapi hasil pengukuran di rumah atau melalui pemantauan tekanan darah 24 jam masih dalam batas normal.
Dengan demikian, tidak semua peningkatan tekanan darah saat bertemu dokter berarti seseorang mengalami hipertensi.
Mengapa Tekanan Darah Bisa Naik Saat Diperiksa Dokter?
Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan tekanan darah meningkat ketika seseorang menjalani pemeriksaan medis.
1. Rasa Cemas atau Gugup
Sebagian orang merasa khawatir ketika harus menjalani pemeriksaan kesehatan, terutama jika memiliki pengalaman sebelumnya dengan hasil tekanan darah tinggi.
Perasaan tersebut dapat memicu respons stres tubuh sehingga aktivitas sistem saraf simpatik meningkat. Akibatnya, denyut jantung dan tekanan darah dapat mengalami kenaikan sementara.
2. Takut Mengetahui Hasil Pemeriksaan
Kekhawatiran terhadap kemungkinan diagnosis penyakit juga dapat memengaruhi kondisi tubuh. Misalnya, seseorang merasa takut ketika melihat alat tensimeter mulai bekerja atau ketika menunggu dokter menyampaikan hasil pemeriksaan.
Tanpa disadari, ketegangan tersebut bisa membuat hasil pengukuran tekanan darah menjadi lebih tinggi.
3. Suasana Rumah Sakit atau Klinik
Lingkungan pelayanan kesehatan dapat memberikan tekanan psikologis bagi sebagian orang. Suasana ruang pemeriksaan, aktivitas tenaga medis, maupun pengalaman menjalani pemeriksaan sebelumnya bisa memicu rasa tidak nyaman.
Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor munculnya White Coat Effect.
4. Kurang Istirahat Sebelum Pemeriksaan
Tekanan darah juga dapat dipengaruhi oleh aktivitas sebelum pemeriksaan. Berjalan terburu-buru, menaiki tangga, kurang tidur, atau belum sempat beristirahat setelah perjalanan menuju klinik dapat memengaruhi hasil pengukuran.
Karena itu, seseorang sebaiknya tidak langsung mengukur tekanan darah setelah melakukan aktivitas fisik.

Bagaimana Cara Mengetahui Apakah Mengalami White Coat Effect?
Salah satu cara untuk mengetahui kemungkinan White Coat Effect adalah dengan membandingkan hasil pengukuran tekanan darah di klinik dan di luar klinik. Dokter biasanya dapat menyarankan dua metode pemantauan berikut:
1. Home Blood Pressure Monitoring (HBPM)
HBPM merupakan metode pemantauan tekanan darah secara mandiri menggunakan tensimeter di rumah. Pengukuran dilakukan secara teratur dan hasilnya dicatat untuk mengetahui pola tekanan darah dalam aktivitas sehari-hari. Catatan tersebut kemudian dapat digunakan sebagai bahan evaluasi bersama dokter.
2. Ambulatory Blood Pressure Monitoring (ABPM)
ABPM merupakan pemeriksaan tekanan darah menggunakan alat khusus yang dikenakan pada tubuh selama sekitar 24 jam. Alat ini akan mengukur tekanan darah secara otomatis dalam interval tertentu, baik saat seseorang beraktivitas maupun ketika tidur.
Hasil pemeriksaan ABPM membantu dokter melihat perubahan tekanan darah sepanjang hari sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh.
Tips Mengukur Tekanan Darah agar Hasil Lebih Akurat
Untuk memperoleh hasil pengukuran yang lebih akurat, baik di rumah maupun di fasilitas kesehatan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:
- stirahat sekitar 5 menit sebelum pengukuran. Hindari mengukur tekanan darah segera setelah berjalan, berolahraga, atau melakukan aktivitas berat.
- Duduk dengan posisi yang benar. Pastikan punggung bersandar, kedua kaki menapak di lantai, dan tidak menyilangkan kaki.
- Posisikan lengan sejajar dengan jantung. Letakkan lengan di atas meja atau penyangga agar tetap rileks.
- Gunakan ukuran manset yang sesuai. Manset yang terlalu kecil atau terlalu besar dapat memengaruhi hasil pengukuran.
- Hindari berbicara selama pemeriksaan. Usahakan tubuh tetap rileks dan tidak melakukan aktivitas lain.
- Lakukan pengukuran sebanyak dua kali. Berikan jeda sekitar satu menit di antara pengukuran, kemudian catat hasilnya.
Selain itu, hindari konsumsi kafein, merokok, dan olahraga setidaknya 30 menit sebelum pengukuran tekanan darah.
Penutup
White Coat Effect merupakan salah satu alasan mengapa hasil pengukuran tekanan darah di rumah sakit bisa lebih tinggi dibandingkan ketika dilakukan di rumah. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh rasa cemas, ketegangan, maupun respons tubuh terhadap lingkungan pemeriksaan.
Meskipun demikian, tekanan darah yang kembali normal di rumah bukan berarti seseorang sepenuhnya terbebas dari risiko hipertensi. Pemantauan secara berkala dan pemeriksaan yang tepat tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatan secara menyeluruh.
Oleh karena itu, biasakan mengukur tekanan darah dengan teknik yang benar dan mencatat hasilnya secara teratur. Dengan pemantauan yang baik, perubahan tekanan darah dapat diketahui lebih awal sehingga langkah penanganan yang sesuai bisa dilakukan bersama tenaga medis.
Baca artikel lainnya
https://keslan.kemkes.go.id/view_artikel/296/white-coat-hypertension-aman-atau-alarm?utm_
https://www.heart.org/en/news/2023/03/08/blood-pressure-measurements-in-the-clinic-may-vary-widely-between-doctors-visits?utm_
https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-fenomena-tekanan-darah-tinggi-saat-di-klinik?utm_
https://www.alodokter.com/hipertensi-jas-putih-peningkatan-tekanan-darah-saat-bertemu-dokter?utm_
https://www.klikdokter.com/info-sehat/jantung/apa-itu-hipertensi-jas-putih?utm_
https://www.halodoc.com/artikel/mengapa-white-coat-bikin-tensi-naik-tiba-tiba?utm_




