Ketika mendengar kata “sekolah”, yang biasanya terlintas di pikiran adalah seorang anak yang duduk di bangku kelas, sementara guru berdiri di depan dan menjelaskan pelajaran. Padahal, kalau dilihat lebih luas, belajar tidak selalu berarti duduk di kelas, menghadap papan tulis, dan mengerjakan tugas. Sekolah memang menjadi salah satu tempat untuk belajar, tetapi proses belajar sendiri bisa berlangsung di mana saja, termasuk di rumah atau melalui cara-cara khusus yang disesuaikan dengan kondisi anak. Setiap anak punya kemampuan dan kebutuhan yang berbeda, sehingga cara mereka belajar pun tidak selalu bisa disamakan.

Hal ini juga berlaku bagi anak disabilitas. Bagi mereka, belajar bukan hanya tentang membaca, menulis, atau memahami pelajaran di kelas, tetapi juga tentang belajar menjadi mandiri dan mampu melakukan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang terlihat sederhana bagi sebagian orang bisa menjadi sebuah pencapaian besar bagi anak disabilitas. Namun, kebutuhan setiap anak tentu berbeda. Jenis disabilitas dan tingkat kondisi yang dimiliki dapat memengaruhi apa yang mereka pelajari, bagaimana cara mereka belajar, hingga proses yang harus dilalui. Lalu, seperti apa sebenarnya proses pembelajaran bagi anak disabilitas, dan bagaimana cara yang tepat untuk menyesuaikannya dengan kebutuhan masing-masing anak? yuk belajar bersama Yayasan Sayap ibu Banten.

Sebelum sekolah, anak menjalani asesmen

Menurut hasil wawancara dengan Ibu Tati Sapto dari Yayasan Sayap Ibu Banten, proses belajar mengajar bagi anak disabilitas diawali dengan asesmen untuk mengetahui kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak. Asesmen dilakukan oleh psikolog bersama guru disabilitas. Hasilnya digunakan untuk menentukan:

  • Kelas yang paling sesuai.
  • Target pembelajaran setiap anak.
  • Keterampilan yang perlu dikembangkan.
  • Metode belajar yang paling efektif.

Dengan adanya asesmen ini, pembelajaran tidak diberikan dengan cara yang sama kepada semua anak, tetapi disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan mereka agar proses belajar dapat berjalan lebih nyaman dan membantu anak berkembang secara bertahap.

belajar mengetik penyandang disabilitas di yayasan sayap ibu

Sekolah Inklusi Membuka Kesempatan, tetapi Masih Memiliki Tantangan

Anak dengan disabilitas memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, termasuk belajar di sekolah inklusi bersama teman-teman seusianya. Namun, menurut Ibu Tati Sapto, tidak semua sekolah sudah siap memenuhi kebutuhan setiap anak.

Beberapa anak masih membutuhkan shadow teacher atau guru pendamping agar dapat mengikuti proses belajar dengan lebih optimal. Pendamping membantu anak memahami materi, beradaptasi dengan lingkungan sekolah, hingga mengikuti aktivitas di kelas sesuai kebutuhannya.

Karena itulah, Yayasan Sayap Ibu Banten juga menyediakan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus. Tujuannya bukan menggantikan sekolah inklusi, tetapi memastikan setiap anak tetap mendapatkan kesempatan belajar dengan dukungan yang sesuai.

Belajar Kemandirian Melalui Aktivitas Sehari-hari

Di Yayasan Sayap Ibu Banten, pembelajaran tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik. Anak-anak juga dilatih untuk memiliki keterampilan hidup atau bina diri, sehingga mereka lebih mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Pembelajaran dilakukan melalui pengalaman langsung, seperti:

  • Berbelanja ke pasar untuk mengenal uang sebagai alat tukar.
  • Belajar berhitung melalui proses jual beli.
  • Latihan memasak sebagai bekal kehidupan sehari-hari.
  • Melakukan aktivitas rutin yang melatih kemandirian.
bina diri kegiatan belajar anak disabilitas

Selain itu, beberapa anak juga berlatih menggunakan kursi roda elektrik yang telah dimodifikasi. Latihan ini membantu mereka belajar mengendalikan kursi roda sendiri sehingga lebih percaya diri saat beraktivitas. Bagi anak cerebral palsy, kemampuan melakukan hal-hal sederhana tersebut merupakan pencapaian penting dalam proses menuju kemandirian.

bina diri belajar masak yayasan sayap ibu

Menurut hasil wawancara dengan Ibu Tati Sapto dari Yayasan Sayap Ibu Banten, “pendidikan bagi anak disabilitas bukan hanya mengejar nilai akademik, tetapi membantu mereka berkembang sesuai kemampuan masing-masing”

Baca artikel lainnya

Pendidikan Adalah Hasil Kerja Sama Banyak Pihak

Agar proses belajar berjalan optimal, anak tidak hanya didampingi oleh guru. Di Yayasan Sayap Ibu Banten, mereka juga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, di antaranya:

  • Psikolog yang melakukan asesmen dan memantau perkembangan anak.
  • Guru disabilitas yang menyusun dan mendampingi proses pembelajaran.
  • Mahasiswa magang dari jurusan psikologi dan keperawatan yang ikut memberikan pendampingan.
  • Shadow teacher atau pendamping bagi anak yang membutuhkannya.

Kolaborasi ini membantu memastikan setiap anak mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya.

Pendidikan yang Memberi Ruang untuk Bertumbuh

Pendidikan inklusif bukan hanya tentang menerima anak penyandang disabilitas di dalam kelas. Yang lebih penting adalah bagaimana lingkungan belajar mampu memahami dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan setiap anak.

Ketika anak mendapatkan metode belajar yang tepat, pendampingan yang sesuai, dan kesempatan untuk melatih kemandiriannya, mereka memiliki peluang yang lebih besar untuk berkembang sesuai potensinya.

Karena pada akhirnya, kesempatan belajar yang tepat bukan hanya membantu anak memahami pelajaran, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan mereka menuju kehidupan yang lebih mandiri.

Dukungan untuk anak disabilitas tentu tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi juga penting dalam keseharian. Untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut, Galeri Medika Toko Alkes bisa menjadi salah satu pilihan yang menyediakan berbagai kebutuhan kesehatan harian dan perlengkapan pendukung, khususnya bagi anak dengan cerebral palsy.

Klik Untuk Lihat Sumber>

Cerebral palsy guide
Tati Sapto (Pengurus Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten), wawancara oleh Tim Galeri Medika, 7 Agustus 2026