Kalau mendengar cerebral palsy (CP), mungkin yang langsung terlintas adalah anak yang menggunakan kursi roda atau memiliki keterbatasan bergerak. Padahal, yang sering luput dari perhatian adalah proses panjang di balik setiap perkembangan yang mereka capai.

Bisa jadi, kemampuan menggenggam sendok, mengucapkan satu kata, atau menggerakkan kursi roda secara mandiri membutuhkan latihan yang dilakukan berulang kali. Proses itu tentu tidak bisa dijalani sendirian. Ada pendamping, terapis, guru, hingga tenaga kesehatan yang terus mendampingi setiap langkah mereka.

Inilah yang selama hampir 21 tahun dilakukan Yayasan Sayap Ibu Banten. Bukan sekadar menjadi tempat tinggal, yayasan ini membangun sistem pendampingan yang membantu anak-anak penyandang disabilitas tumbuh sesuai kemampuan masing-masing.

yayasan sayap ibu banten

Lebih dari Sekadar Tempat Tinggal

Sejak berdiri pada 2005, Yayasan Sayap Ibu Banten kini menjadi rumah bagi sekitar 33 anak dengan berbagai jenis disabilitas. Sebagian besar merupakan anak dengan cerebral palsy, sementara yang lain memiliki kondisi multi-disabilitas.

Untuk mendukung kebutuhan mereka, yayasan melibatkan lebih dari 80 staf, mulai dari pengasuh, guru, terapis, perawat, juru masak, sopir, petugas keamanan, hingga petugas kebersihan.

Di balik itu semua, ada tujuh orang pengurus yang mengelola yayasan secara sukarela. Bersama seluruh tim, mereka berupaya menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, sekaligus mendukung tumbuh kembang setiap anak.

Mengenal Program yang Menjadi Pondasi Pendampingan

Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendekatan yang diberikan juga tidak bisa disamakan. Di Yayasan Sayap Ibu Banten, tumbuh kembang anak didukung melalui beberapa program utama yang saling melengkapi.

1. Terapi Sesuai Kebutuhan Anak

Terapi menjadi salah satu bagian penting dalam mendukung perkembangan anak. Layanan yang tersedia meliputi:

  • Fisioterapi
  • Hidroterapi
  • Terapi Okupasi
  • Terapi Wicara
terapi di yayasan sayap ibu

Masing-masing terapi memiliki tujuan yang berbeda, mulai dari membantu kemampuan bergerak, melatih komunikasi, hingga meningkatkan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.

2. Pendidikan yang Disesuaikan dengan Potensi

Sebelum mengikuti kegiatan belajar, setiap anak menjalani asesmen bersama psikolog dan guru pendidikan khusus. Dari hasil asesmen tersebut, yayasan menentukan metode belajar yang paling sesuai. Ada anak yang belajar di sekolah khusus, ada juga yang bersekolah di sekolah inklusi dengan pendampingan shadow teacher. Pendekatan ini membantu setiap anak mendapatkan kesempatan belajar sesuai kemampuan dan potensinya.

3. Layanan Kesehatan yang Mendukung Tumbuh Kembang

Selain terapi dan pendidikan, kesehatan anak juga menjadi perhatian. Yayasan menyediakan pemantauan kesehatan secara rutin yang didukung berbagai fasilitas, seperti alat pemeriksaan dasar, tabung oksigen, hingga layanan pemeriksaan gigi bersama dokter gigi relawan. Dengan pemantauan yang dilakukan secara berkala, kondisi anak dapat terus dipantau sehingga mereka tetap bisa mengikuti berbagai program dengan nyaman.

4. Langkah Kecil Menuju Kemandirian

Di Yayasan Sayap Ibu Banten, kemandirian bukan sesuatu yang harus dicapai sekaligus. Semuanya dilakukan secara bertahap, sesuai kemampuan setiap anak. Melalui pendampingan dan berbagai latihan, anak-anak dibantu untuk mengembangkan kemampuan yang mereka miliki.

Yayasan juga menyediakan berbagai alat bantu, seperti walker, tongkat, hingga kursi roda yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Bagi sebagian orang, kemajuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi anak-anak penyandang cerebral palsy, setiap perkembangan adalah langkah besar yang patut diapresiasi.

belajar mengetik penyandang disabilitas di yayasan sayap ibu

Tumbuh Bersama Lingkungan

Belajar dan terapi bukan satu-satunya hal yang penting. Anak-anak juga membutuhkan kesempatan untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Karena itu, yayasan rutin melibatkan mereka dalam berbagai kegiatan, mulai dari olahraga, seni, kegiatan komunitas, hingga kunjungan edukatif. Yayasan juga membuka kesempatan bagi sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, dan relawan yang ingin ikut berkontribusi. Lewat berbagai kegiatan tersebut, anak-anak bisa belajar bersosialisasi sekaligus menunjukkan bahwa mereka juga memiliki kemampuan dan potensi yang layak mendapat ruang.

Menjaga Pelayanan Tetap Berjalan

Memberikan pendampingan kepada puluhan anak dengan kebutuhan yang berbeda tentu membutuhkan kerja sama banyak pihak. Setiap hari, berbagai layanan harus berjalan beriringan, mulai dari terapi, pendidikan, layanan kesehatan, hingga pendampingan.

Agar semua itu dapat terus terlaksana, yayasan juga bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti relawan, institusi pendidikan, perusahaan, dan masyarakat yang selama ini turut memberikan dukungan. Kolaborasi inilah yang menjadi salah satu kekuatan Yayasan Sayap Ibu Banten dalam menghadirkan layanan bagi anak-anak penyandang disabilitas.

Baca artikel lainnya

Bersama Mewujudkan Lingkungan yang Lebih Inklusif

Selain mendampingi anak-anak, yayasan juga aktif mengajak masyarakat untuk melihat disabilitas dari sudut pandang yang berbeda. Masih ada stigma yang membuat penyandang disabilitas kesulitan mendapatkan kesempatan yang setara.

Karena itu, yayasan berharap semakin banyak sekolah, fasilitas umum, tempat kerja, maupun ruang publik yang menghadirkan akses yang lebih ramah bagi penyandang disabilitas.Dengan lingkungan yang lebih inklusif, anak-anak tidak hanya mendapatkan tempat untuk belajar, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh dan berpartisipasi di tengah masyarakat.

Merawat Hari Ini untuk Menyiapkan Esok

Selama hampir 21 tahun, Yayasan Sayap Ibu Banten terus menunjukkan bahwa membangun kemandirian anak penyandang cerebral palsy adalah perjalanan yang dilakukan sedikit demi sedikit. Terapi, pendidikan, layanan kesehatan, hingga dukungan dari lingkungan menjadi bagian yang saling melengkapi dalam proses tersebut.

Harapan yayasan pun sederhana, yaitu agar setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang, menjadi lebih mandiri, dan menjalani kehidupan dengan lebih percaya diri sesuai kemampuan mereka. Sejalan dengan hal tersebut, Ibu Tati Sapto berharap:

“Masyarakat diharapkan tidak memandang disabilitas sebagai hal yang buruk, melainkan melihat disabilitas sebagai bagian dari keberagaman lingkungan sosial yang harus diterima dan didukung bersama.”

Lalu, seperti apa keseharian anak-anak di yayasan? Apa saja aktivitas yang mereka jalani setiap hari, dan bagaimana rutinitas sederhana bisa menjadi bagian penting dari proses belajar mereka?



baca artikel berikut ini >>

Klik Untuk Lihat Sumber>

Tati Sapto (Pengurus Yayasan Sayap Ibu Cabang Banten), wawancara oleh Tim Galeri Medika, 7 Agustus 2026