
Pernah nggak sih ngerasa udah diet, udah jaga makan, bahkan rajin ngecek timbangan, tapi hasilnya kayak gitu-gitu aja? Sementara orang lain keliatannya santai, makannya mirip, tapi badannya gampang banget berubah. Ujung-ujungnya kita mikir, “dietnya yang salah?” atau “Metabolisme kita emang bermasalah?” Padahal bisa jadi, masalahnya bukan di effort kamu, tapi di cara tubuhmu merespons makanan.
Setiap tubuh punya bahasa sendiri saat ngolah nutrisi, dan nggak semuanya bereaksi sama lho. Ada yang cepat dipakai jadi energi, ada juga yang lebih gampang disimpan. Yuk kenalan dengan food genomics!

Apa Itu Food Genomics dan Nutrigenomics?
Food genomics adalah bidang ilmu yang mempelajari interaksi antara makanan, nutrisi, dan genetik manusia. Ilmu ini menjelaskan bahwa nutrisi tidak hanya menjadi sumber energi, tetapi juga dapat memengaruhi cara gen bekerja di dalam tubuh.
Di dalam food genomics terdapat dua konsep utama. Nutrigenomics mempelajari bagaimana zat gizi dapat memengaruhi ekspresi gen, misalnya gen yang berperan dalam metabolisme lemak dan peradangan. Sementara nutrigenetics membahas bagaimana perbedaan genetik antarindividu memengaruhi respons tubuh terhadap makanan tertentu. Konsep ini menegaskan bahwa pola makan sehat tidak bisa disamaratakan karena setiap tubuh memiliki respons biologis yang berbeda. "Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik mempengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital dalam koran jakarta.
Cara Kerja Food Genomics di Dalam Tubuh
Food genomics bekerja dengan melihat variasi gen tertentu yang disebut single nucleotide polymorphisms (SNPs). Variasi gen ini memengaruhi cara tubuh memetabolisme karbohidrat, lemak, protein, serta menyerap vitamin dan mineral. Ketika seseorang mengonsumsi makanan, zat gizi di dalamnya akan berinteraksi dengan gen-gen tersebut dan memengaruhi jalur metabolisme yang aktif. Inilah sebabnya dua orang dengan asupan yang mirip bisa menunjukkan hasil yang sangat berbeda pada timbangan komposisi tubuh.
Tes genomik makanan dilakukan dengan menggunakan sampel darah atau air liur, kemudian dianalisis dalam kurun waktu sekitar 1–2 minggu. Hasil pemeriksaan ini selanjutnya ditelaah oleh ahli gizi klinis untuk menyusun rekomendasi nutrisi yang disesuaikan dengan kondisi individu, mencakup pengaturan makronutrien, kebutuhan vitamin tertentu seperti vitamin D, asam lemak esensial omega-3, serta saran aktivitas fisik yang sesuai.

Kenapa Respons Tubuh terhadap Makanan Bisa Berbeda
Fenomena makan sama, hasil beda bukan sekadar mitos. Menurut Marketeers, Food genomics menunjukkan bahwa gen yang mengatur sensitivitas insulin, pembakaran energi, dan penyimpanan lemak berperan besar dalam menentukan perubahan berat dan komposisi tubuh.
Sebagai contoh, sebagian orang lebih sensitif terhadap karbohidrat sederhana sehingga lebih mudah mengalami lonjakan gula darah dan penumpukan lemak. Di sisi lain, ada individu yang memiliki metabolisme karbohidrat lebih efisien sehingga dampaknya tidak sebesar itu. Perbedaan gen juga memengaruhi respons terhadap kafein, laktosa, dan lemak jenuh, yang pada akhirnya memengaruhi hasil pengukuran komposisi tubuh.
Manfaat Food Genomics untuk Kesehatan
Pendekatan food genomics memungkinkan pola makan yang lebih personal. Bukan diet seragam, tapi menyesuaikan dengan kebutuhan biologis tubuh. Panel nutrigenomik dapat memberikan gambaran awal mengenai potensi alergi atau intoleransi terhadap makanan tertentu. Manfaatnya bisa meliputi:
- Membantu menyusun pola makan, nutrisi, dan suplemen yang sesuai dengan kebutuhan tiap individu
- Mendukung pencegahan penyakit dan masalah kesehatan sejak dini
- Membantu memahami alasan tubuh bereaksi berbeda terhadap makanan tertentu
- Mengidentifikasi risiko genetik terhadap penyakit sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan lebih awal
- Memberikan motivasi karena rekomendasi kesehatan bersifat personal dan sesuai kondisi tubuh
Dengan memahami cara tubuh merespons nutrisi tertentu, seseorang dapat menyusun pola makan yang lebih efektif dan berkelanjutan, tanpa harus mengikuti diet ekstrem.

Food Genomics Bukan Pengganti Pola Hidup Sehat
Meski berbasis genetik, food genomics bukan solusi instan. Dr. Davie dalam marketeers menekankan bahwa food genomics tidak dimaksudkan untuk menggantikan prinsip dasar gaya hidup sehat. Kebiasaan makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta menjaga keseimbangan asupan gizi tetap menjadi dasar utama dalam menjaga kesehatan. Gen memberikan kecenderungan, bukan kepastian. Artinya, gaya hidup tetap memiliki peran besar dalam menentukan hasil akhir yang terlihat pada komposisi tubuh.
Di Indonesia, food genomics mulai dikenal seiring meningkatnya minat terhadap kesehatan preventif dan nutrisi personal. Beberapa layanan tes DNA telah digunakan sebagai pendukung perencanaan pola makan dan gaya hidup sehat, meski penerapannya masih dalam tahap berkembang.
Apakah Food Genomics Cocok untuk Semua Orang?
Food genomics pada dasarnya bisa dipelajari oleh siapa saja yang ingin memahami tubuhnya dengan lebih baik. Pendekatan ini sering menarik perhatian mereka yang sudah mencoba berbagai pola makan, tetapi merasa hasilnya tidak konsisten atau sulit dipertahankan. Dengan memahami kecenderungan genetik, seseorang bisa lebih realistis dalam menentukan tujuan kesehatan dan tidak mudah menyalahkan diri sendiri saat hasilnya berbeda dari orang lain.
Meski begitu, food genomics bukanlah kewajiban dan tidak harus dijalani oleh semua orang. Bagi sebagian orang, menerapkan pola makan seimbang, rutin beraktivitas fisik, dan menjaga gaya hidup sehat sudah cukup memberikan hasil yang baik. Food genomics sebaiknya dipandang sebagai alat bantu untuk memahami tubuh secara lebih personal, bukan sebagai standar baru yang harus diikuti semua orang.
Baca artikel lainnya
Food Genomics dan Peran Timbangan Komposisi Tubuh
Dengan memahami food genomics, angka pada timbangan komposisi tubuh jadi lebih bermakna. Berat badan yang turun belum tentu berarti lemak berkurang, dan berat badan yang naik juga tidak selalu menandakan kondisi kesehatan memburuk. Bisa saja angkanya tetap, tetapi lemak berkurang dan massa otot bertambah. Food genomics membantu menjelaskan mengapa perubahan ini tidak terjadi dengan kecepatan yang sama pada setiap orang. Saat kecenderungan genetik tubuh dipahami, hasil diet dan olahraga bisa dinilai dengan cara yang lebih realistis.

Timbangan Lemak Omron HBF-214
Monitor Komposisi Tubuh Omron HBF-214 lebih dari sekedar alat timbang digital! Cari tahu komposisi tubuh Anda seperti lemak tubuh, lemak perut, otot rangka, dan banyak lagi hanya dalam hitungan detik! Mode multi-pengguna juga memungkinkan penggunaan yang mudah di dalam rumah tangga
Info Lengkap produknya KLIK DISINI
https://voi.id/en/info-sehat/550733
https://koran-jakarta.com/2026-01-09/sudah-tahu-apa-itu-food-genomics-berikut-penjelasannya
https://www.nutritionsociety.org/blog/nutrigenomics-basics
https://www.medicalnewstoday.com/articles/nutrigenomics
https://www.marketeers.com/mengenal-food-genomics-pendekatan-nutrisi-personal-berbasis-dna
https://www.sciencedirect.com/topics/biochemistry-genetics-and-molecular-biology/nutritional-genomics
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3481686/




