
Pernah mengukur tekanan darah lalu melihat angka yang berbeda-beda? Kadang hasilnya tinggi, kadang justru rendah. Dari sini mungkin muncul pertanyaan: sebenarnya tekanan darah tinggi dan tekanan darah rendah itu apa bedanya?
Dua istilah yang paling sering kita dengar adalah hipertensi dan hipotensi. Namanya memang terdengar mirip, tetapi kondisinya justru berlawanan. Hipertensi berkaitan dengan tekanan darah yang terlalu tinggi, sedangkan hipotensi berkaitan dengan tekanan darah yang terlalu rendah.
Meski begitu, memahami tekanan darah tidak cukup hanya dengan melihat apakah angkanya tinggi atau rendah. Yuk, kenali perbedaannya dengan cara yang lebih sederhana.

Mengenal Hipertensi dan Hipotensi
1. Hipertensi: Ketika Tekanan Darah Terlalu Tinggi
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah berada pada tingkat yang terlalu tinggi secara terus-menerus, menariknya hipertensi sering kali tidak menimbulkan keluhan yang jelas.
Seseorang bisa saja merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi memiliki tekanan darah yang tinggi. Karena itu, pemeriksaan tekanan darah secara rutin menjadi salah satu cara untuk membantu mengetahui kondisi tekanan darah.
Beberapa hal yang dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan darah antara lain:
- Pola makan yang kurang seimbang
- Terlalu banyak mengonsumsi garam
- Kurang aktivitas fisik
- Berat badan berlebih
- Kebiasaan merokok
- Faktor usia dan keturunan
- Kondisi kesehatan tertentu
Jadi, jangan selalu menunggu sampai tubuh terasa tidak nyaman untuk memeriksa tekanan darah.
2. Hipotensi: Ketika Tekanan Darah Terlalu Rendah
Kalau hipertensi berarti tekanan darah terlalu tinggi, hipotensi adalah kondisi ketika tekanan darah lebih rendah dari biasanya.
Pada sebagian orang, tekanan darah rendah bisa saja tidak menimbulkan masalah. Namun, jika tekanan darah terlalu rendah dan menyebabkan aliran darah ke organ tubuh tidak mencukupi, dapat muncul beberapa keluhan.
Contohnya:
- Pusing atau kepala terasa ringan
- Lemas
- Mual
- Penglihatan terasa kabur
- Tubuh terasa tidak stabil
- Merasa ingin pingsan
- Pingsan pada kondisi tertentu
Tekanan darah rendah juga dapat berkaitan dengan kondisi seperti kekurangan cairan, kehilangan darah, efek obat tertentu, perubahan posisi tubuh secara tiba-tiba, atau kondisi kesehatan lainnya.

Jadi, Apa Bedanya Hipertensi dan Hipotensi?
Cara paling mudah untuk mengingatnya adalah:
Hipertensi = tekanan darah terlalu tinggi
Hipotensi = tekanan darah terlalu rendah
Namun, keduanya tidak selalu bisa dikenali hanya dari gejala. Hipertensi bahkan sering tidak menimbulkan gejala yang khas, sementara keluhan seperti pusing atau lemas bisa disebabkan oleh banyak hal.
Itulah mengapa mengukur tekanan darah dengan tensimeter dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi tekanan darah pada saat pemeriksaan.
| Hipertensi | Hipotensi |
| Tekanan darah terlalu tinggi | Tekanan darah lebih rendah dari biasanya |
| Sering tidak menimbulkan gejala yang jelas | Dapat menyebabkan pusing, lemas, atau ingin pingsan |
| Perlu dipantau secara berkala | Perlu diperhatikan terutama jika disertai keluhan |
| Dapat berkaitan dengan pola hidup, usia, keturunan, dan kondisi tertentu | Dapat berkaitan dengan dehidrasi, kehilangan darah, obat tertentu, dan kondisi lainnya |

Kapan Sebaiknya Memeriksa Tekanan Darah?
Tidak perlu menunggu sampai merasa pusing, lemas, atau tidak enak badan untuk mulai memperhatikan tekanan darah.
Pemeriksaan secara berkala dapat dilakukan sebagai bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan, terutama bagi orang yang sedang memantau tekanan darah atau memiliki faktor risiko tertentu.
Jika hasil pengukuran berulang kali menunjukkan angka yang tidak biasa, atau muncul keluhan yang cukup berat seperti pingsan, sebaiknya jangan langsung menyimpulkan penyebabnya sendiri. Konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan.
FAQ
1. Apakah hipertensi dan hipotensi merupakan kondisi yang sama?
Tidak. Keduanya sama-sama berkaitan dengan tekanan darah, tetapi hipertensi berarti tekanan darah terlalu tinggi, sedangkan hipotensi berarti tekanan darah lebih rendah dari biasanya.
2. Apakah orang dengan hipertensi pasti merasa pusing?
Tidak selalu. Hipertensi sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Karena itu, pemeriksaan tekanan darah tetap penting.
3. Kalau sering pusing, apakah berarti mengalami hipotensi?
Belum tentu. Pusing dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Pengukuran tekanan darah dapat membantu mengetahui apakah tekanan darah sedang rendah.
4. Apakah tekanan darah bisa berubah-ubah?
Ya. Tekanan darah dapat berubah sepanjang hari dan dipengaruhi oleh aktivitas, posisi tubuh, kondisi emosional, serta berbagai faktor lainnya.
5. Apakah perlu rutin menggunakan tensimeter?
tekanan darah secara berkala dapat membantu mengetahui perubahan tekanan darah, terutama bagi orang yang memang perlu memantau tekanan darahnya. Jika hasilnya terus berada di luar rentang yang diharapkan, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Penutup
Hipertensi dan hipotensi memang sama-sama berhubungan dengan tekanan darah, tetapi keduanya memiliki kondisi yang berlawanan. Hipertensi berkaitan dengan tekanan darah yang terlalu tinggi, sedangkan hipotensi berkaitan dengan tekanan darah yang lebih rendah dari biasanya.
Daripada hanya menebak berdasarkan gejala, mengukur tekanan darah dengan tensimeter dapat menjadi langkah sederhana untuk mengetahui kondisi tekanan darah saat itu.
Yang terpenting, jangan hanya terpaku pada satu angka. Lakukan pengukuran dengan cara yang tepat, perhatikan hasilnya dari waktu ke waktu, dan konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika terdapat hasil yang terus tidak biasa atau keluhan yang mengkhawatirkan.
Baca artikel lainnya
https://www-who-int.translate.goog/news-room/fact-sheets/detail/hypertension?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge
https://www.alodokter.com/hipotensi
https://hellosehat.com/jantung/jantung-lainnya/hipotensi/
https://heartology.id/health-library/content/mengenal-hipertensi-tekanan-darah-tinggi-gejala-penyebab-pengobatan-dan-pencegahannya/




