Banyak orang tua khawatir ketika mendengar diagnosis penyakit Kawasaki pada anak, terutama terkait kemungkinan penularannya kepada saudara atau teman bermain. Kabar baiknya, penyakit Kawasaki tidak menular dan tidak dapat berpindah dari satu anak ke anak lain melalui kontak langsung, udara, maupun makanan.

Menurut artikel berjudul “Kawasaki disease” dari Mayo Clinic, penyakit ini merupakan kondisi peradangan pembuluh darah yang diduga berkaitan dengan respons sistem kekebalan tubuh, bukan akibat infeksi yang dapat menular. Hal serupa juga dijelaskan dalam artikel “Kawasaki disease: Symptoms, causes, and treatment” oleh Medical News Today, yang menyebutkan bahwa hingga saat ini penyebab pasti penyakit Kawasaki belum diketahui, namun para ahli menduga adanya kombinasi faktor genetik dan pemicu lingkungan. Di Indonesia, artikel kesehatan di Tempo.co berjudul “Waspadai Penyakit Kawasaki pada Anak, Bisa Sebabkan Komplikasi Jantung” juga menegaskan bahwa penyakit ini bukan penyakit menular, melainkan kondisi medis serius yang membutuhkan penanganan cepat untuk mencegah komplikasi pada jantung.

Meski tidak menular, orang tua tetap perlu waspada karena gejala awalnya sering menyerupai infeksi biasa seperti demam tinggi dan ruam, sehingga berisiko terlambat dikenali.

Apa Itu Penyakit Kawasaki Dan Mengapa Berbahaya?

Penyakit Kawasaki adalah penyakit inflamasi akut yang terutama menyerang bayi dan anak usia di bawah 5 tahun. Penyakit ini menyebabkan peradangan pada pembuluh darah kecil hingga sedang di seluruh tubuh (vaskulitis sistemik), termasuk arteri koroner yang memasok darah ke jantung. Penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama penyakit jantung yang didapat (acquired heart disease) pada anak di negara maju. Peradangan yang terjadi dapat memengaruhi arteri koroner dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius jika tidak ditangani dalam 10 hari pertama sejak gejala muncul.

Menurut artikel “Kawasaki disease” dari Mayo Clinic, peradangan pada penyakit Kawasaki dapat melemahkan dinding arteri koroner sehingga berisiko menimbulkan pelebaran atau aneurisma pembuluh darah jantung. Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah ke jantung dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius di kemudian hari.

Bahaya utama penyakit ini terletak pada kemampuannya merusak jantung jika tidak ditangani dengan cepat. Artikel “Kawasaki disease: Symptoms, causes, and treatment” dari Medical News Today menyebutkan bahwa tanpa pengobatan dalam 10 hari pertama sejak munculnya gejala, sekitar 20–25% anak berisiko mengalami kelainan arteri koroner. Namun, risiko tersebut dapat menurun drastis menjadi kurang dari 5% apabila anak segera mendapatkan terapi imunoglobulin intravena (IVIG). Pengobatan ini bertujuan mengurangi peradangan dan melindungi pembuluh darah jantung dari kerusakan permanen. Karena itu, penyakit Kawasaki tidak boleh dianggap sebagai demam biasa. Demam tinggi yang berkepanjangan disertai perubahan pada kulit, mata, bibir, dan mulut harus segera diperiksakan ke dokter. Pemeriksaan lanjutan seperti tes darah dan ekokardiografi sangat penting untuk memastikan diagnosis serta memantau kondisi jantung anak.

penyakit kawasaki pada anak

Tahapan Penyakit Kawasaki

Berdasarkan artikel “Kawasaki disease” dari Mayo Clinic, penyakit ini umumnya terbagi menjadi tiga fase:

  • Fase Akut (1–2 minggu pertama)
    Pada fase ini terjadi peradangan aktif pada pembuluh darah. Gejalanya meliputi: Demam tinggi lebih dari 5 hari, mata merah tanpa kotoran, ruam pada tubuh, bibir pecah-pecah dan lidah merah seperti stroberi, pembengkakan tangan dan kaki. Fase ini merupakan periode paling kritis untuk memulai pengobatan guna mencegah komplikasi jantung.
  • Fase Subakut (minggu ke-2 hingga ke-4)
    Pada fase ini demam mulai mereda, tetapi risiko komplikasi jantung justru meningkat. Dapat terjadi pengelupasan kulit di ujung jari tangan dan kaki, nyeri sendi, risiko terbentuknya aneurisma arteri koroner. Fase subakut adalah periode dengan risiko tertinggi terjadinya kelainan arteri koroner.
  • Fase Pemulihan (minggu ke-4 hingga ke-8)
    Pada tahap ini gejala klinis perlahan menghilang dan kondisi anak membaik. Namun, pemantauan jantung tetap diperlukan melalui pemeriksaan lanjutan seperti ekokardiografi untuk memastikan tidak ada kerusakan permanen pada arteri koroner.

Gejala Penyakit Kawasaki pada Anak

Gejala biasanya muncul bertahap dan berlangsung lebih dari lima hari. Orang tua perlu waspada bila anak mengalami demam tinggi berkepanjangan yang tidak membaik dengan obat biasa. Gejala utama meliputi:

  • Demam tinggi lebih dari 5 hari.
  • Mata merah tanpa kotoran.
  • Bibir merah, pecah-pecah, dan lidah tampak seperti “stroberi”.
  • Ruam kulit di tubuh.
  • Pembengkakan tangan dan kaki.
  • Pembesaran kelenjar getah bening di leher.

Pada fase berikutnya, kulit di ujung jari tangan dan kaki dapat mengelupas. Anak juga bisa menjadi rewel, lemah, dan kehilangan nafsu makan.

penyakit kawasaki pada anak

Risiko Komplikasi Jantung

Bahaya terbesar penyakit Kawasaki adalah dampaknya pada jantung. Peradangan dapat menyebabkan:

  • Pelebaran atau aneurisma arteri koroner.
  • Gangguan katup jantung.
  • Peradangan otot jantung (miokarditis).
  • Gangguan irama jantung.

Komplikasi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung di masa depan, bahkan serangan jantung pada usia muda bila tidak ditangani. Oleh karena itu, dokter biasanya melakukan pemeriksaan jantung seperti ekokardiografi selama dan setelah masa sakit.

Peran Alat Kesehatan untuk Deteksi Dini di Rumah

Meskipun diagnosis Penyakit Kawasaki hanya dapat ditegakkan oleh dokter melalui pemeriksaan klinis dan penunjang seperti tes darah serta ekokardiografi, orang tua dapat melakukan pemantauan awal di rumah untuk membantu mempercepat proses deteksi. Beberapa alat kesehatan yang dapat membantu orang tua memantau kondisi anak secara lebih akurat:

  1. Termometer Digital
  2. Demam tinggi lebih dari 5 hari merupakan gejala utama Penyakit Kawasaki. Karena itu, memiliki termometer digital di rumah sangat penting untuk mengukur suhu tubuh secara akurat, mencatat durasi demam setiap hari, dan memantau respons terhadap obat penurun panas. Pemantauan suhu yang konsisten membantu dokter menilai apakah demam termasuk dalam kriteria diagnosis Kawasaki.

    alat pemeriksaan darah

    Termometer ini menggunakan teknologi inframerah dengan pengukuran cepat sekitar satu detik dan dapat digunakan dalam tiga mode, yaitu pengukuran di dahi, telinga, serta untuk mengukur suhu objek seperti botol susu atau air mandi. Fitur layar LCD dengan indikator warna memudahkan orang tua mengenali kondisi suhu normal hingga demam tinggi secara visual. Selain itu, adanya fitur penyimpanan hasil pengukuran membantu memantau pola demam anak dari hari ke hari.

    Info detil produk silakan KLIK DISINI

  3. Pulse Oximeter (Alat Pengukur Saturasi Oksigen)
  4. Jika terjadi gangguan jantung atau sirkulasi, kadar oksigen dalam darah bisa terpengaruh. Pulse oximeter membantu orang tua untuk memantau saturasi oksigen, mengamati denyut nadi anak dan mengenali tanda awal gangguan pernapasan atau sirkulasi. Walaupun alat ini bukan alat diagnosis Kawasaki, pemantauan denyut nadi dan oksigen dapat memberikan informasi tambahan sebelum konsultasi medis.

    alat pemeriksaan darah

    Alat ini dirancang khusus untuk penggunaan anak-anak dan memiliki layar OLED berwarna yang mudah dibaca, tampilan empat arah, serta fitur pengukuran saturasi oksigen (SpO₂), denyut nadi (pulse rate), dan perfusion index (PI) secara real time sehingga orang tua bisa dengan cepat melihat apakah ada perubahan pada kondisi pernapasan atau sirkulasi darah anak yang perlu mendapatkan perhatian medis. Penggunaan oximeter seperti ini yang ringan, kompak, dan mudah dipasang di ujung jari bisa memberikan informasi tambahan yang membantu saat anak menunjukkan gejala demam berkepanjangan atau perubahan perilaku yang mencurigakan. Namun, seperti alat kesehatan di rumah lainnya, hasil pengukuran tetap harus dikonfirmasi oleh tenaga medis melalui pemeriksaan lanjutan jika ditemukan nilai yang tidak normal.

    Info detil produk silakan KLIK DISINI

    Pentingnya Pemeriksaan Lanjutan di Fasilitas Kesehatan

    Perlu ditegaskan bahwa alat kesehatan di rumah tidak menggantikan pemeriksaan dokter. Jika anak mengalami:

    • Demam lebih dari 5 hari
    • Mata merah tanpa kotoran
    • Bibir pecah-pecah dan lidah merah
    • Ruam dan pembengkakan tangan/kaki

    Segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan lanjutan seperti:

    • Tes darah
    • Elektrokardiogram (EKG)
    • Ekokardiografi (USG jantung)

    Penyakit Kawasaki merupakan kondisi serius yang memerlukan kewaspadaan tinggi dari orang tua karena gejalanya sering menyerupai penyakit infeksi biasa. Meski tidak menular, dampaknya terhadap jantung dapat sangat berbahaya apabila terlambat dikenali dan ditangani. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini, memantau kondisi anak secara cermat di rumah, serta segera mencari pertolongan medis merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi jangka panjang.

    Pemantauan menggunakan alat kesehatan sederhana seperti termometer digital dan pulse oximeter dapat membantu orang tua mendeteksi tanda bahaya lebih cepat sebelum mendapatkan pemeriksaan dokter. Dengan pencatatan suhu tubuh, denyut nadi, dan kondisi umum anak, proses diagnosis dapat dilakukan lebih cepat sehingga peluang kesembuhan juga semakin besar.

    Bagi yang ingin mendapatkan kedua produk ini atau alat kesehatan lainnya, Galeri Medika menyediakan berbagai pilihan alat kesehatan lengkap, berkualitas, dan 100% ORIGINAL. Ketersediaan alat yang akurat dan berkualitas membantu keluarga lebih siap dalam menghadapi kondisi darurat kesehatan pada anak.

    Klik Untuk Lihat Sumber>

    https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/kawasaki-disease/symptoms-causes/syc-20354598?utm
    https://www.medicalnewstoday.com/articles/164533
    https://tempo.co/