Di Indonesia, hampir setiap rumah punya satu cara mujarab yang diwariskan turun-temurun yaitu kerokan. Begitu badan terasa meriang, pegal, atau kembung, koin dan minyak kayu putih langsung jadi andalan. Setelah digosok hingga muncul garis merah di punggung, banyak yang merasa tubuhnya kembali segar seolah angin benar-benar keluar.

Fenomena ini begitu umum, bahkan istilah masuk angin sudah melekat kuat dalam budaya indonesia. Hampir semua orang pernah mengalaminya dari pekerja kantoran hingga petani di desa. Tapi tahukah kamu, istilah ini ternyata tidak dikenal dalam dunia medis lho? Nah, kalau begitu sebenarnya apa sih masuk angin itu menurut medis? Apakah benar karena angin yang masuk ke tubuh, atau ada penjelasan ilmiah di baliknya?

Kenal Lebih Jauh Masuk Angin di Indonesia

“Masuk angin” sudah menjadi istilah yang sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Biasanya digunakan saat tubuh terasa tidak enak, pegal, kembung, demam, atau pusing. Namun, dalam dunia medis, istilah ini sebenarnya tidak dikenal sebagai penyakit. Istilah ini hanya menggambarkan sekumpulan gejala yang bisa muncul karena berbagai penyebab.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam artikel Frontiers in Psychology (2021), disebutkan bahwa banyak masyarakat di dunia menggunakan kondisi dingin untuk menjelaskan penyakit seperti flu atau demam. Konsep angin yang masuk ke tubuh mencerminkan cara berpikir tradisional masyarakat indonesia dalam menjelaskan penyakit sehari-hari, meskipun belum terbukti secara ilmiah.

Pandangan Dunia Medis terhadap Masuk Angin

Secara medis, masuk angin tidak termasuk diagnosis penyakit. Gejala seperti kembung, demam ringan, pegal, dan lemas sebenarnya bisa disebabkan oleh berbagai kondisi mulai dari infeksi virus pernapasan atas (common cold), gangguan pencernaan, hingga kelelahan fisik. Gejala yang sering disebut sebagai masuk angin sebenarnya sangat mirip pada kategori flu biasa (common cold) yang tertuang dalam artikel Cleveland Clinic dan Mayo Clinic.

Masuk Angin dan Kerokan, Apa Kata Dunia Medis Tentang Dua Hal yang Tak Terpisahkan Ini?

Kira-Kira Apa Penyebabnya?

Penyebab utama munculnya gejala masuk angin umumnya karena turunnya daya tahan tubuh, sehingga tubuh lebih mudah terserang virus atau bakteri. Meski sering dikaitkan dengan terkena hujan atau angin malam, belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa paparan udara dingin secara langsung menyebabkan penyakit.

Namun, berkurangnya paparan sinar matahari saat musim hujan dapat menurunkan produksi vitamin D, yang berperan penting dalam menjaga imunitas tubuh. Kekurangan vitamin D, C, dan E dapat membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi yang kemudian dikenal masyarakat sebagai masuk angin

Gejala Umum Masuk Angin

Gejala masuk angin umumnya memang mirip dengan flu biasa, antara lain:

  • Hidung meler atau tersumbat
  • Batuk dan bersin
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Pegal-pegal ringan
  • Demam ringan

Karena itu, dunia medis menganggap masuk angin sebagai flu ringan atau infeksi pernapasan atas.

Penyakit yang Sering Disebut Masuk Angin

Nah, walau umumnya gejala masuk angin seperti flu ringan, berikut kumpulan beberapa penyakit yang gejalanya sering disalahartikan sebagai masuk angin:

  1. Infeksi Saluran Pernapasan Atas (Common Cold, Sinusitis, Faringitis)
    Menurut cleveland clinic gejalanya seperti hidung tersumbat, batuk, dan demam ringan sering dikira masuk angin. Padahal, ini infeksi virus pada saluran napas atas yang mudah menular.
  2. Bronkitis atau Pneumonia Ringan
    Batuk berdahak, sesak, dan demam sering dianggap masuk angin biasa. Namun, kondisi ini menunjukkan peradangan di saluran napas bawah atau paru-paru akibat infeksi.
  3. Demam Tifoid (Typhoid Fever)
    Menurut mayo clinic gejala awal demam tifoid hanya demam dan lemas seperti masuk angin, tapi tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang menyerang sistem pencernaan.
  4. Gangguan Pencernaan (Dyspepsia atau Maag)
    Perut kembung dan mual sering dikira masuk angin perut, padahal bisa disebabkan pola makan tidak teratur atau infeksi lambung.
  5. Penyakit Jantung (Angin Duduk)
    Nyeri dada, sesak, dan keringat dingin kerap dianggap masuk angin berat atau sering disebut angin duduk. padahal ini tanda gangguan aliran darah ke jantung yang berisiko fatal.
Masuk Angin dan Kerokan, Apa Kata Dunia Medis Tentang Dua Hal yang Tak Terpisahkan Ini?

Kerokan Sebagai Pengobatan Alternatif

Di Indonesia, kerokan sudah jadi ritual wajib ketika seseorang merasa masuk angin. Biasanya dilakukan dengan menggosokkan koin atau logam ke kulit yang sudah dioles minyak, hingga muncul guratan merah.

Menurut artikel dari Komorebi Institute dan Seasia.co, kerokan adalah bentuk terapi tradisional yang mirip dengan gua sha di Tiongkok. Secara medis, gesekan saat kerokan dapat melancarkan peredaran darah superfisial dan memberikan sensasi hangat yang membantu relaksasi otot. Namun, kerokan bukan pengobatan utama. Efek lega yang dirasakan sering kali hanya bersifat sementara dan bisa disebabkan oleh peningkatan sirkulasi darah, bukan karena angin keluar.

Untuk membantu proses pemulihan, selain dengan kerokan, kamu juga bisa memanfaatkan beberapa alat kesehatan sederhana di rumah, seperti:

  • TENS alat pijat, untuk relaksasi cara kerjanya mirip kerokan yang dapat merelaksasi otot.
  • Termometer digital, untuk memantau suhu tubuh, karena masuk angin sering dikaitkan dengan gejala flu dan demam.
  • Lampu terapi inframerah, untuk meredakan pegal dan meningkatkan sirkulasi darah tanpa harus kerokan berlebihan.
  • Nebulizer, untuk membantu melegakan pernapasan bila disertai batuk atau pilek berat.

Kapan Masuk Angin Jadi Pertanda Masalah Serius?

Meskipun sebagian besar kasus masuk angin tergolong ringan, jangan abaikan bila gejalanya berlangsung lama atau terasa berat. Segera periksakan diri ke dokter bila:

  • Demam tinggi lebih dari tiga hari
  • Tubuh sangat lemas
  • Muntah atau diare terus-menerus
  • Nyeri dada atau sesak, terutama jika memiliki riwayat penyakit jantung

Ada banyak penyakit, termasuk penyakit serius, yang bisa menimbulkan keluhan masuk angin. Oleh karena itu, berhati-hatilah dan tidak menyepelekan masuk angin, terutama jika gejala yang dirasakan cukup berat dan tidak segera membaik.

Jadi, masuk angin itu sebenarnya bukan penyakit, tapi tanda tubuh lagi butuh istirahat atau bahkan bisa jadi gejala penyakit lain lho. Nah, meski kerokan bisa memberikan rasa lega sesaat karena melancarkan peredaran darah, penting juga untuk mengetahui tanda-tanda yang mengarah ke penyakit lain. salah satunya dengan persiapan memiliki alat kesehatan sederhana di rumah, seperti alat pijat, termometer, dan lampu inframerah, bisa membantu memantau kondisi tubuh lebih akurat. Sesekali boleh percaya cara tradisional, tapi jangan abaikan pemeriksaan medis ya.

Klik Untuk Lihat Sumber>

https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8481701/
https://seasia.co/2025/08/21/the-healing-myth-of-kerokan-indonesias-ancient-remedy-for-wellness
https://www.komorebi-institute.com/the-gua-sha-journal/kerokan-indonesias-traditional-scraping-therapy-and-its-deep-cultural-roots
https://www.frontiersin.org/journals/psychology/articles/10.3389/fpsyg.2021.734044/full
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/12342-common-cold
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/common-cold/symptoms-causes/syc-20351605
https://www.cdc.gov/common-cold/about/index.html
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/4022-upper-respiratory-infection
https://medlineplus.gov/ency/article/007447.htm
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/24129-heart-disease
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/typhoid-fever/symptoms-causes/syc-20378661