Pernah nggak sih lihat teman, saudara, atau bahkan kita sendiri yang suka banget ngemil es batu? Kelihatannya memang bikin nagih, es batu yang keras dan dingin, digigit rasanya kres-kres yang super seger, apalagi saat cuaca panas. Meski kadang bikin gigi ngilu, tetap saja bagi sebagian besar orang ada yang merasa nikmat ketika mengunyahnya.

Nah, ternyata kebiasaan ini ada istilah medisnya lho. Pagophagia adalah istilah untuk perilaku sering mengunyah atau mengonsumsi es batu secara berlebihan. Sekilas mungkin terlihat tidak berbahaya, namun tahukah kamu kalau kebiasaan ini bisa menjadi tanda adanya kondisi medis tertentu?

Mengenal Lebih Jauh Seputar Ngemil Es Batu

Bagi sebagian orang, ngemil es batu bisa jadi sebagian kecil kebiasaan untuk menyegarkan tenggorokan saja. Namun di dunia medis, fenomena ini dikenal sebagai pagophagia, yang merupakan salah satu bentuk dari pica gangguan makan di mana seseorang mengonsumsi benda non-makanan. Menurut NCBI Bookshelf, pica bisa mencakup kebiasaan makan tanah, kertas, hingga es batu.

Walau terdengar unik, kebiasaan ini ternyata cukup banyak dilakukan dan umum terjadi lho. Healthline menjelaskan bahwa banyak orang merasakan dorongan kuat untuk mengunyah es batu tanpa tahu alasan jelasnya. Sebagian melakukannya karena rasa segar, sebagian lagi karena kondisi kesehatan tertentu. Menurut mayo clinic, Pada kasus anemia defisiensi besi, craving es batu bahkan menjadi salah satu tanda yang sering muncul.
Hobi Ngemil Es Batu? Waspada, Bisa Jadi Alarm Kesehatan

Mengapa Orang Suka Ngemil Es Batu?

Pagophagia, atau kebiasaan mengunyah es batu secara berlebihan, bisa disebabkan oleh berbagai faktor psikologis dan kebiasaan tertentu. Dari sisi psikologis, perilaku ini termasuk dalam gangguan makan yang disebut pica, yaitu dorongan untuk mengonsumsi benda non-makanan secara kompulsif. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan stres, gangguan obsesif-kompulsif (OCD), atau kecenderungan perilaku berulang yang memberikan rasa tenang. Anak-anak, ibu hamil, serta individu dengan gangguan perkembangan seperti autisme juga dapat mengalami pagophagia sebagai bagian dari pola perilaku sensorik. Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini bisa muncul begitu kuat hingga dilakukan setiap hari dan menimbulkan masalah pada gigi atau mulut.

Selain faktor psikologis, mulut kering (xerostomia) juga bisa menjadi pemicu munculnya kebiasaan mengunyah es. Kondisi ini terjadi ketika produksi air liur menurun, menyebabkan rasa tidak nyaman seperti kering, perih, atau kesulitan menelan. Untuk meredakannya, sebagian orang memilih mengunyah es karena sensasi dingin dan lembap yang menyegarkan. Mulut kering sendiri bisa dipicu oleh berbagai hal seperti efek samping obat-obatan, bernapas lewat mulut, atau kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol. Jika dibiarkan, kebiasaan mengunyah es secara terus-menerus bisa menjadi pertanda bahwa tubuh sedang memberi sinyal tertentu dan sebaiknya tidak diabaikan.

Pagophagia dan Anemia Defisiensi Besi

Pagophagia adalah masalah yang sama sekali berbeda jika terjadi akibat kekurangan zat besi. Anemia defisiensi zat besi adalah bentuk anemia yang terjadi ketika tubuh kekurangan zat besi. Zat besi sangat penting untuk pembentukan sel darah merah dan hemoglobin (molekul yang mengandung zat besi yang membawa oksigen ke seluruh tubuh). Gejala anemia defisiensi besi dapat meliputi:

  • Kelelahan yang amat.
  • Kelemahan.
  • Kulit pucat.
  • Nyeri dada, detak jantung cepat atau sesak napas.
  • Sakit kepala atau pusing atau pening.
  • Tangan dan kaki dingin.
  • Iritasi atau nyeri pada lidah.
  • Kuku rapuh.
  • Sindrom kaki gelisah.

Defisiensi zat besi cenderung berkembang secara perlahan karena tubuh biasanya memiliki cadangan yang cukup di sumsum tulang dan hati. Ketika kadar zat besi mulai menurun, pagophagia terkadang bisa menjadi tanda awal defisiensi, meskipun seringkali terlewatkan. Didukung Menurut Mayo Clinic (2022), salah satu gejala anemia defisiensi besi adalah craving es batu.

Penelitian jurnal pubmed menunjukkan bahwa 16% partisipan yang memiliki kebiasaan mengunyah es batu menderita anemia. Hal ini mungkin terjadi karena mengunyah es memberikan sensasi segar yang sementara bisa membantu mengurangi rasa lelah akibat kurangnya oksigen dalam tubuh. selain pagophagia, pada anemia defisiensi  juga bisa menyebabkan Keinginan terhadap bau-bau aneh, seperti bau karet, deterjen atau bahan pembersih juga Tidak mau makan, terutama pada bayi dan anak-anak.

Hobi Ngemil Es Batu? Waspada, Bisa Jadi Alarm Kesehatan

Bahaya Tersembunyi di Balik Es Batu

Walau kelihatannya tidak berbahaya, kebiasaan ini punya dampak serius bagi kesehatan. Mengunyah benda keras seperti es batu bisa merusak email gigi, menyebabkan gigi retak, atau membuat gigi lebih sensitif. Bahkan, risiko sakit gigi dan kerusakan permanen bisa meningkat jika kebiasaan ini berlangsung lama.

Kalau kebiasaan suka makan es batu (pagophagia) ternyata disebabkan oleh anemia defisiensi zat besi, ada beberapa risiko kesehatan yang bisa muncul. Anemia ringan sih biasanya tidak terlalu bahaya, tapi kalau dibiarkan tanpa ditangani bisa makin parah dan menimbulkan masalah, seperti:

  • Masalah jantung, misalnya detak jantung cepat atau tidak teratur. Karena, jika tubuh kekurangan oksigen, jantung harus kerja ekstra untuk memompa darah. Lama-lama jantung bisa membesar bahkan sampai gagal jantung.
  • Masalah kehamilan, seperti bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah.
  • Masalah tumbuh kembang anak, termasuk gangguan pertumbuhan dan lebih mudah terkena infeksi.

Cara Mengatasi Kebiasaan Ngemil Es Batu

  1. Periksakan Diri ke Dokter
    Yang paling utama adalah memeriksakan diri. Tes darah bisa membantu memastikan apakah tubuh mengalami kekurangan zat besi atau tidak.
  2. Penuhi Nutrisi Tubuh
    Mengonsumsi makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati ayam, bayam, kacang-kacangan, dan sereal yang difortifikasi dapat membantu memperbaiki kondisi tubuh atau suplemen sesuai resep dokter.
  3. Cari Alternatif Aman
    Kalau ingin tetap mendapatkan sensasi segar dan dingin, cobalah mengganti es batu dengan buah beku seperti anggur, melon, atau stroberi.
  4. Pantau Kesehatan dengan Alat Bantu
    Selain perubahan gaya hidup, penting juga untuk rutin memantau kondisi kesehatan. Misalnya dengan:
    • Alat cek hemoglobin, memantau anemia.
    • Timbangan digital & body composition analyzer, memantau status gizi.
    • Sikat gigi elektrik & water flosser, menjaga gigi tetap sehat meski sering makan makanan keras.

Ngemil es batu memang terasa segar banget nih, apalagi disaat cusca terik. Tapi balik lagi nih, kebiasaan yang terlihat sederhana ini, bisa tersimpan tanda-tanda penting kondisi kesehatan lho. Jika kamu atau orang terdekat punya kebiasaan seperti ini, jangan ragu untuk coba cek kadar hemoglobin ya, apalagi jika disertai gejala lain seperti mudah lelah atau sering pusing.

Nah jangan lupa juga untuk rutin cek hemoglobin. Saat ini udah banyak alat kesehatan sederhana yang bisa dipakai di rumah untuk memantau kondisi tubuh, jadi lebih gampang untuk tahu jika ada masalah sejak awal. Dengan begitu, kalau kamu masih sering ngemil es batu, kamu juga bisa lebih cepat sadar apakah itu cuma kebiasaan biasa atau tanda tubuh lagi butuh perhatian khusus. Yuk, mulai lebih peduli sama kesehatan diri sendiri dari hal-hal kecil seperti ini.

Klik Untuk Lihat Sumber>

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/symptoms-causes/syc-20355034
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/iron-deficiency-anemia/expert-answers/chewing-ice/faq-20057982
https://www.nhlbi.nih.gov/health/anemia/iron-deficiency-anemia
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24850454/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK567717/
https://assets.cureus.com/uploads/case_report/pdf/36943/1612430786-1612430783-20210204-18204-udud6p.pdf
https://www.healthline.com/health/pagophagia
https://www.mouthhealthy.org/nutrition/9-foods-that-damage-your-teeth
https://www.verywellhealth.com/eating-ice-a-common-symptom-of-iron-deficiency-anemia-2634365