
Oximeter jari atau pulse oximeter adalah alat medis kecil yang semakin familiar di masyarakat. Bentuknya sederhana, cara pakainya mudah, dan hasilnya bisa langsung terbaca dalam hitungan detik. Alat ini banyak digunakan di rumah sakit, klinik, hingga pemantauan mandiri di rumah, terutama sejak pandemi. Namun, di balik kepraktisannya, studi terbaru menunjukkan bahwa oximeter jari memiliki keterbatasan terutama dalam hal akurasi pada orang dengan warna kulit lebih gelap.
Yuk Kenal Lebih Jauh Oximeter
Oximeter jari berfungsi untuk mengukur dua hal utama yaitu saturasi oksigen dalam darah (SpO₂) dan denyut nadi. Beberapa perangkat juga menampilkan kekuatan sinyal untuk menunjukkan seberapa stabil pembacaan alat tersebut. Dalam kondisi normal, kadar saturasi oksigen pada orang sehat yang berada di permukaan laut berkisar antara 95–100%. Jika angka ini turun di bawah 92%, hal tersebut bisa menjadi tanda hipoksemia, yaitu kondisi ketika kadar oksigen dalam darah tidak mencukupi kebutuhan tubuh.
Pada kadar 88% atau lebih rendah, kondisi ini dianggap serius dan memerlukan penanganan medis segera. Karena cepat dan tidak menimbulkan rasa sakit, oximeter sering dianggap sebagai salah satu tanda vital tambahan dalam pemantauan kesehatan, khususnya untuk pasien dengan gangguan pernapasan atau penyakit paru.

Bagaimana Cara Kerja Oximeter Jari?
Oximeter bekerja dengan prinsip cahaya. Saat dijepitkan ke ujung jari, alat ini memancarkan cahaya merah dan inframerah yang menembus kuku, kulit, dan jaringan darah. Sensor di sisi lain jari kemudian menangkap cahaya yang tidak diserap oleh darah.
Perbedaan penyerapan cahaya tersebut digunakan untuk menghitung kadar hemoglobin yang membawa oksigen. Dari sinilah angka saturasi oksigen ditentukan. Meski terdengar canggih, metode ini sangat bergantung pada bagaimana cahaya dapat melewati jaringan tubuh dan di sinilah berbagai faktor dapat memengaruhi akurasi
Mengapa Warna Kulit Berpengaruh?
Penelitian selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa pigmentasi kulit, khususnya melanin, dapat memengaruhi pembacaan oximeter. Melanin adalah pigmen alami yang memberi warna pada kulit, rambut, dan mata. Pada orang dengan kulit lebih gelap, kadar melanin lebih tinggi dan dapat menyerap sebagian cahaya merah serta inframerah yang dipancarkan oleh oximeter
Akibatnya, alat dapat memberikan hasil yang kurang akurat. Beberapa studi lama menunjukkan kecenderungan overestimate, yaitu pembacaan oksigen tampak normal padahal sebenarnya lebih rendah. Kondisi ini berisiko karena hipoksemia bisa tidak terdeteksi.
Namun, studi prospektif terbaru menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Dalam penelitian yang membandingkan hasil oximeter dengan pemeriksaan gas darah arteri (metode paling akurat), ditemukan bahwa pada sebagian pasien berkulit gelap, oximeter justru menghasilkan pembacaan lebih rendah (underestimate). Hal ini menunjukkan bahwa arah bias tidak selalu sama dan bisa berbeda tergantung kondisi pasien serta perangkat yang digunakan.

Faktor Lain yang Memengaruhi Akurasi
Selain warna kulit, ada banyak faktor lain yang dapat memengaruhi hasil pembacaan oximeter, antara lain:
- Cat kuku atau kuku palsu, yang dapat menghalangi transmisi cahaya
- Gerakan berlebihan, seperti menggigil atau gemetar
- Suhu jari yang dingin, yang dapat mengurangi aliran darah
- Ketebalan kulit dan perfusi darah
- Kebiasaan merokok, yang dapat meningkatkan kadar karbon monoksida dalam darah dan mengganggu pembacaan
Karena itu, hasil oximeter sebaiknya selalu dilihat bersama kondisi klinis pasien secara keseluruhan, bukan hanya terpaku pada angka di layar.
Seberapa Akurat Oximeter Sebenarnya?
Secara umum, sebagian besar oximeter jari memiliki tingkat akurasi ±2–4% dari kadar oksigen darah arteri yang sebenarnya. Artinya, jika alat menunjukkan angka 96%, kadar oksigen sebenarnya bisa berada di rentang 92–100%. Pada kondisi tertentu, selisih kecil ini bisa sangat bermakna secara klinis.
Baca artikel lainnya
Apakah Oximeter Masih Bisa Diandalkan?
Oximeter jari tetap bermanfaat dan banyak digunakan untuk memantau kadar oksigen secara cepat dan non-invasif. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa akurasinya dapat dipengaruhi oleh faktor tertentu, termasuk warna kulit, sirkulasi darah, gerakan, dan kondisi jari. Pada individu dengan kulit lebih gelap, alat ini berisiko memberikan pembacaan yang kurang akurat atau melewatkan kondisi hipoksemia.
Karena itu, oximeter sebaiknya digunakan sebagai alat pemantauan, bukan penentu diagnosis. Jika angka yang muncul tidak sesuai dengan kondisi tubuh atau gejala yang dirasakan, tenaga medis perlu melakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih akurat. Dengan memahami keterbatasannya, oximeter tetap bisa menjadi alat yang membantu asal digunakan secara bijak dan tidak bergantung pada satu angka saja.
https://www.news-medical.net/news/20260114/Pulse-oximeters-overestimate-blood-oxygen-levels-in-patients-with-darker-skin.aspx
https://www.statnews.com/2026/01/12/pulse-oximeter-study-accuracy-on-dark-skin/
https://www.usnews.com/news/health-news/articles/2026-01-16/fingertip-blood-oxygen-monitors-are-less-accurate-for-people-of-color-study-finds
https://www.news-medical.net/news/20260118/Pulse-oximeters-miss-hypoxemia-more-often-in-people-with-darker-skin-study-finds.aspx
https://www.yalemedicine.org/conditions/pulse-oximetry
https://magazine.medlineplus.gov/article/ getting-an-accurate-read-on-pulse-oximeters
https://my.clevelandclinic.org/health/diagnostics/pulse-oximetry




