
“Panggil aku pelari kalcer, panggil aku pelari konten, gapapa pace keong yang penting gayaku paten.” Penggalan lirik dari lagu yang dinyanyikan Sastra Silalahi ft. Mamang Kesbor ini bukan sekadar hiburan, melainkan potret jujur tentang tren baru di dunia lari. “Kalcer” merupakan adaptasi gaul dari kata culture yang mencerminkan bagaimana budaya populer kini diterjemahkan ke dalam gaya hidup sehari-hari. Di tengah maraknya unggahan Strava, Instagram Story, dan video TikTok sehabis lari, muncul fenomena pelari kalcer. Lari kini tidak lagi sekadar olahraga, tetapi juga ajang pencitraan digital. Bukan hal aneh jika seseorang lebih sibuk memilih outfit, menentukan spot foto, atau memastikan jam tangan pintarnya merekam dengan akurat, dibanding fokus pada ritme dan teknik berlari yang benar.
Tapi kalau yang diburu itu hal positif, sah-sah saja, kan? Tidak bisa dipungkiri, pelari kalcer ini punya peran tersendiri dalam menyebarkan semangat hidup sehat. Dari unggahan lari pagi dengan langit keemasan, sampai OOTD sporty yang bikin iri, semua itu sedikit banyak menarik perhatian orang untuk mulai ikutan gerak. Banyak yang awalnya cuma ingin tampil gaya, tapi akhirnya jadi rutin lari beneran. Selain itu, lewat konten-konten mereka, informasi soal teknik lari yang benar, pentingnya pemanasan, sampai tips memilih sepatu lari yang aman jadi lebih mudah diakses dan dicerna. Jadi walaupun niat awalnya mungkin demi likes dan views, dampaknya tetap terasa positif buat banyak orang.
Saat Youtuber dan Konten Kreator Zahid Ibrahim Jadi Role Model Lari Sehat
Salah satu sosok yang kini ikut menyuarakan semangat hidup sehat lewat lari adalah YouTuber dan konten kreator Zahid Ibrahim. Melalui akun Instagram-nya, Zahid rutin membagikan aktivitas larinya, mulai dari sesi latihan santai hingga partisipasinya dalam ajang lari marathon di luar negeri. Dalam salah satu unggahannya, ia tampak mengenakan medali finisher dengan ekspresi bangga usai menuntaskan lari 10 kilometer dengan pace yang cukup impresif.
Namun bukan hanya catatan waktunya yang menarik perhatian. Zahid juga menyisipkan pesan yang relatable untuk pengikutnya: “Inget… badan lu nggak selamanya bisa kayak gini… mulai gerak… #YangPentingSelesai” Pesan sederhana ini seolah jadi tamparan halus yang mengingatkan bahwa menjaga kebugaran bukan soal estetika atau prestasi, tapi tentang merawat tubuh selagi masih mampu. Lewat kalimat ini, Zahid memperlihatkan bahwa motivasi untuk mulai berlari bisa datang dari kesadaran kecil akan kesehatan diri.

Gaya Zahid saat lari pun cenderung santai, namun tetap sporty dan fungsional. Ia tidak tampil berlebihan, tapi tetap memperlihatkan bahwa olahraga bisa jadi bagian dari gaya hidup yang fun, tidak mengintimidasi, dan bisa dimulai dari langkah kecil. Dari sini kita bisa lihat bahwa tidak semua pelari kalcer hanya soal gaya beberapa justru menyampaikan pesan yang lebih bermakna.
Pelari Pemula, Jangan Asal Lari: Tips Latihan Aman ala Coach Latief Nuraifin
Dalam salah satu episode podcast #Ngopenk bersama Dr. Tirta, Coach Latief Nuraifin membagikan banyak wawasan berharga seputar dunia lari, terutama bagi pelari pemula yang ingin serius menekuni olahraga ini. Percakapan ini membuka mata bahwa lari khususnya marathon bukan sekadar soal semangat, tapi juga butuh pendekatan yang tepat agar terhindar dari cedera dan tetap konsisten.
Coach Latief menekankan bahwa banyak pemula tergoda ikut-ikutan tren tanpa pemahaman dasar, seperti langsung mendaftar event maraton tanpa persiapan matang. Padahal, maraton bukan hal sepele. Butuh waktu, konsistensi, dan strategi latihan yang disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Di sinilah pentingnya memiliki pelatih bersertifikat atau panduan latihan yang tepat.

Beberapa poin penting yang dibahas antara lain:
- Pemahaman Dasar: Pelari harus tahu batas kemampuan diri sebelum mengejar target jarak seperti 10K, half-marathon, atau full marathon.
- Latihan Tempo dan Interval: Teknik ini penting untuk membangun kecepatan dan daya tahan, tapi harus dibarengi dengan waktu pemulihan (recovery) yang cukup untuk menjaga performa tubuh.
- Peran Detak Jantung (Heart Rate): Banyak pelari pemula cemas melihat detak jantung tinggi saat lari. Coach menegaskan bahwa setiap orang punya tingkat adaptasi berbeda, dan tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain.
- Manajemen Cedera dan Recovery: Jika tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda sakit atau cedera, sebaiknya ambil waktu istirahat. Memaksakan latihan hanya akan memperburuk kondisi.
- Kustomisasi Program Latihan: Setiap pelari punya tujuan dan kondisi fisik berbeda, sehingga program latihan pun harus spesifik, realistis, dan bisa disesuaikan jika terjadi perubahan kondisi.
- Persiapan Menuju Race Day: Coach memberikan tips menjaga ritme lari, serta pentingnya asupan karbohidrat menjelang lomba untuk mengisi ulang energi.
Berlatihlah dengan pintar, bukan hanya keras. Jangan terjebak euforia tren lari tanpa perencanaan, karena tubuh butuh adaptasi bertahap agar bisa berkembang dengan aman.
Apa yang Bisa Kita Pelajari Dari Tren ke Gaya Hidup Sehat
Tren pelari kalcer menunjukkan satu hal penting, yaitu memberikan motivasi orang untuk bergerak bisa datang dari mana saja, termasuk dari media sosial. Tidak masalah jika awalnya demi konten atau gaya, selama akhirnya membawa dampak positif bagi tubuh dan pikiran. Konsistensi adalah kunci utama bukan kecepatan. Bahkan riset menunjukkan bahwa olahraga ringan seperti jogging 3–4 kali seminggu sudah cukup menurunkan risiko penyakit jantung dan meningkatkan kualitas tidur.
Komunitas Lari dan Rasa Kebersamaan yang Tumbuh
Fenomena pelari kalcer justru ikut memunculkan banyak komunitas lari baru di berbagai kota dan maraknya event lari yang diadakan. Dari yang serius mengejar target marathon, sampai yang sekadar ingin lari santai sambil ngonten bareng. Komunitas seperti ini membuat olahraga lari terasa lebih menyenangkan. Bagi pemula, bergabung dengan komunitas bisa jadi langkah awal yang bagus selain mendapat dukungan moral, juga bisa belajar teknik dasar lari yang benar, hingga mengenal konsep recovery run.

https://sodacan.id/apa-itu-fenomena-pelari-kalcer/
https://www.rsupwahidin.com/berita-97-olah-raga-bagi-penderita-penyakit-jantung-koroner-(pjk).html
https://stories-strava-com/articles/how-runners-can-get-the-best-out-of-strava?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc
https://youtu.be/wk51JyJ5O50?si=fomPDHsarPoitzfZ
https://youtu.be/nogKhQBu12A?si=bF-8rBYnZgXdiodg




