Dalam kondisi darurat, patah tulang paha (femur) adalah salah satu cedera yang harus segera ditangani. Orang yang mengalami patah tulang paha biasanya akan memegang pahanya atau mencoba menarik kakinya sendiri untuk mengurangi rasa sakit dan menahan gerakan tulang yang patah.

Bidai traksi adalah alat bantu yang digunakan untuk menyangga kaki agar tetap lurus dan tidak banyak bergerak. Alat ini juga membantu mengurangi nyeri dan mencegah perdarahan lebih parah di bagian paha. Pada patah tulang paha, darah bisa keluar cukup banyak ke dalam jaringan paha sehingga menyebabkan pembengkakan besar dan bisa membahayakan nyawa jika tidak segera ditangani. Karena itu, penggunaan bidai traksi sangat penting untuk membantu menstabilkan patah tulang paha sebelum pasien mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.

Apa Itu Tandu Traksi dan Kapan Harus Digunakan?

Tandu traksi merupakan alat medis yang digunakan untuk menstabilkan patah tulang paha sekaligus memberikan tarikan pada otot-otot di sekitarnya. Saat terjadi patah tulang paha, otot di area tersebut cenderung berkontraksi sehingga memicu siklus nyeri dan kejang otot. Penggunaan tandu traksi membantu memutus siklus tersebut sehingga rasa nyeri dapat berkurang.

Selain itu, tandu juga berperan dalam membantu proses pembentukan bekuan darah. Ada dugaan bahwa traksi mampu mengurangi perdarahan pada paha, tetapi hal ini masih sulit dipastikan karena efek pembidaian sendiri dapat memengaruhi hasil pengamatan. Umumnya tandu traksi digunakan dalam pengobatan darurat pra-rumah sakit (EMS, militer, operasi penyelamatan), serta pusat trauma.

Tandu traksi digunakan pada kondisi patah tulang paha untuk membantu menstabilkan cedera dan mengurangi komplikasi yang dapat terjadi. Penggunaan alat ini memberikan beberapa manfaat utama, seperti membantu meredakan nyeri, mengurangi kejang atau spasme otot, serta menekan kemungkinan terjadinya perdarahan. Selain itu, tandu traksi juga mempermudah proses pemindahan, transportasi, dan penanganan pasien selama mendapatkan pertolongan medis.

bagian tandu traksi

Cara Kerja Tandu Traksi

Saat terjadi patah tulang paha, otot-otot di sekitarnya akan berkontraksi sehingga menimbulkan siklus nyeri dan kejang otot. Semakin kuat rasa nyeri yang dirasakan, semakin besar pula spasme otot yang terjadi, dan kondisi tersebut kembali meningkatkan rasa nyeri. Selain itu, ujung tulang yang patah dapat melukai jaringan serta pembuluh darah di sekitarnya sehingga darah dapat terkumpul dengan cepat di area paha.

Tandu traksi bekerja dengan membantu menstabilkan area fraktur dan memberikan tarikan pada otot yang berkontraksi. Dengan demikian, kejang otot dapat berkurang, rasa nyeri menjadi lebih ringan, serta proses pembentukan bekuan darah dapat terbantu. Penggunaan tandu traksi juga diyakini dapat membantu mengurangi perdarahan pada paha akibat cedera.

Jenis Tandu Traksi

Bidai traksi telah mengalami banyak perubahan dan penyempurnaan sejak pertama kali diperkenalkan pada abad ke-19 atau pada tahun 1800-an . Perkembangan tersebut membuat alat ini menjadi lebih ringan, mudah digunakan, serta lebih nyaman dalam membantu penanganan pasien dengan patah tulang paha (femur).

Desain Bipole Tradisional(dua titik penopang utama)

  1. Thomas Splint (1800-an)
    Bidai traksi pertama yang terbuat dari besi dengan cincin besar di dekat pinggul. Alat ini efektif tetapi berat dan sulit dipasang di lapangan.
  2. Hare Traction Splint
    Pengembangan dari Thomas Splint dengan bantalan lebih nyaman dan panjang alat yang dapat disesuaikan.
  3. Donway Traction Splint
    Menggunakan tekanan udara dan alat pengukur untuk memperkirakan besar tarikan.
Jenis jenis tandu traksi

Desain Unipole(Satu penopang utama)

  1. Sager Traction Splint
    Menghilangkan batang penyangga dekat pinggul sehingga lebih nyaman. Memiliki pengukur gaya traksi untuk pengaturan yang lebih tepat.

Desain Monopole Lateral Kompak (penopang tunggal di sisi tubuh yang ringkas)

  1. Kendrick Traction Device (KTD)
    Desain modern, ringan, dan mudah dibawa dengan rangka aluminium lipat.
  2. CT-6 dan CT-7
    Dibuat dari serat karbon sehingga lebih ringan dan kuat. CT-6 menggunakan sistem katrol, sedangkan CT-7 memakai sistem sekrup.
  3. Slishman Traction Splint (STS)
    Memberikan tarikan dari bagian pinggul sehingga lebih nyaman dan ringkas.

Mengapa Pemasangan Tandu Traksi Sering Salah?

Pemasangan tandu atau bidai traksi pada kasus patah tulang paha (femur) sering tidak tepat karena alat ini membutuhkan teknik yang benar dan pemahaman kondisi pasien yang baik. Kesalahan biasanya terjadi karena kurangnya pelatihan, kondisi lapangan yang sulit, atau tergesa-gesa saat penanganan darurat. Beberapa sumber medis menjelaskan bahwa bidai traksi hanya boleh digunakan pada fraktur batang femur tertentu dan tidak boleh dipakai pada cedera di bagian lain seperti panggul atau tungkai bawah. Jika salah indikasi, alat ini justru bisa memperburuk cedera.

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah pemberian tarikan yang tidak sesuai. Tarikan yang terlalu kuat dapat menyebabkan cedera saraf dan pembuluh darah, sedangkan tarikan yang terlalu lemah tidak memberikan stabilisasi yang cukup. Selain itu, tidak dilakukannya pemeriksaan sirkulasi darah sebelum dan sesudah pemasangan juga menjadi masalah penting, karena gangguan aliran darah dapat tidak terdeteksi. Faktor lain seperti posisi pemasangan yang salah, ukuran alat tidak sesuai, serta tidak adanya pemberian obat pereda nyeri sebelum tindakan juga sering membuat prosedur menjadi tidak optimal dan menyakitkan bagi pasien.

Cara menggunakan tandu traksi gea

Panduan Langkah Demi Langkah Cara Menggunakan Tandu Traksi yang Benar

Penggunaan bidai traksi harus dilakukan secara sistematis agar aman dan efektif dalam menstabilkan fraktur femur sebelum penanganan definitif.

  1. Pastikan kondisi awal pasien stabil
    Periksa kesadaran, pernapasan, dan adanya perdarahan serius sebelum tindakan dilakukan.
  2. Posisikan pasien telentang
    Kaki yang cedera dijaga tetap lurus dan tidak banyak digerakkan.
  3. Berikan obat penghilang nyeri bila diperlukan
    Karena pemasangan traksi dapat menimbulkan rasa sakit yang signifikan.
  4. Pasang alat sesuai anatomi kaki
    Bagian atas distabilkan di area panggul, sedangkan bagian bawah dipasang pada pergelangan kaki.
  5. Pasang pengikat pada paha dan tungkai
    Tali digunakan untuk menjaga posisi kaki tetap stabil selama traksi.
  6. Lakukan tarikan perlahan (traksi)
    Tarikan dilakukan hingga kaki kembali lurus dan panjangnya mendekati kaki yang sehat.
  7. Kunci alat setelah posisi stabil
    Pastikan posisi tidak berubah selama proses pemindahan pasien.
  8. Evaluasi sirkulasi darah dan fungsi saraf
    Periksa warna, suhu, denyut nadi, dan kemampuan gerak jari kaki.
  9. Siapkan rujukan ke fasilitas kesehatan
    Bidai traksi hanya bersifat sementara sampai pasien mendapat penanganan definitif seperti operasi.

Seiring perkembangan teknologi medis, desain bidai traksi terus mengalami penyempurnaan menjadi lebih ringan, nyaman, dan mudah digunakan di berbagai kondisi lapangan. Namun, efektivitas alat ini tetap sangat bergantung pada ketepatan teknik pemasangan, pemahaman indikasi penggunaan, serta kemampuan petugas dalam melakukan evaluasi kondisi pasien sebelum dan sesudah tindakan.

Oleh karena itu, pelatihan yang baik dan penerapan prosedur yang benar sangat diperlukan agar penggunaan tandu traksi dapat memberikan manfaat optimal. Dengan penanganan awal yang tepat, pasien dengan fraktur femur memiliki peluang lebih besar untuk terhindar dari komplikasi serius dan mendapatkan proses pemulihan yang lebih baik setelah memperoleh penanganan medis definitif di fasilitas kesehatan.

Klik Untuk Lihat Sumber>

https://rescue-essentials.com/rescue-essentials-blog/traction-splint-comparison-types-and-uses-in-femoral-traction/?
https://unicat.msf.org/cat/product/72575?category=20851
https://en.wikipedia.org/wiki/Traction_splint
https://tacmedaustralia.com.au/blogs/tacmed/femur-fracture-management-your-guide-to-traction-splints?
https://www.msdmanuals.com/professional/injuries-poisoning/how-to-splint-or-immobilize-a-lower-limb/how-to-apply-a-femoral-traction-splint#Positioning_v53029685
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507842/
https://www.tamingthesru.com/blog/acmc/traction-splints-applying-the-ktd-traction-splint