
Di tengah sorotan publik akibat gugatan cerainya terhadap sang suami, Ahmad Assegaf. Tasya Farasya sempat mencuri perhatian bukan karena kisah rumah tangganya, melainkan karena kondisi kesehatannya yang tengah terganggu. Influencer kecantikan ini mengungkap bahwa dirinya sedang menjalani sleep therapy atau terapi tidur sebagai upaya mengatasi insomnia akut yang telah lama ia alami.
Dalam unggahan di Instagram Story yang dikutip pada Selasa (26/8/2025), Tasya mengaku bahwa gangguan tidurnya telah memengaruhi kesehatannya secara signifikan. Ia hanya bisa tidur selama empat hingga lima jam setiap malam, namun dari waktu tersebut, hanya sekitar 3% yang termasuk dalam fase tidur dalam (deep sleep). Sebaliknya, sekitar 90% tergolong tidur ringan atau biasa disebut tidur ayam. Kondisinya semakin parah karena ia juga kerap terbangun di tengah malam, yang membuat kualitas tidurnya semakin menurun.
Apa Itu Sleep Therapy?
Sleep therapy atau terapi tidur adalah metode yang bertujuan untuk membantu seseorang tidur lebih nyenyak dan berkualitas. Terapi ini biasanya digunakan untuk mengatasi berbagai masalah tidur, seperti insomnia, dan salah satu pendekatan yang paling umum adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi perilaku kognitif.
Sleep therapy hadir sebagai alternatif yang lebih sehat dan berkelanjutan. Terapi ini tidak hanya membantu kamu tidur lebih baik, tetapi juga menargetkan faktor-faktor psikologis seperti stres, kecemasan, dan depresi yang sering kali menjadi pemicu utama gangguan tidur.
Menariknya, sebuah penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa CBT lebih efektif dibandingkan obat tidur dalam menangani insomnia kronis. Hasil terapi ini tidak hanya terlihat dalam jangka pendek, tetapi juga bertahan hingga setahun setelah sesi terapi berakhir.
Dengan mengenali penyebab dan pola tidur seseorang, terapi tidur dapat membantu mengembalikan keseimbangan antara tubuh dan pikiran yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh.

Mengenal Polisomnografi: Tes Tidur yang Bisa Mengungkap Akar Masalah Insomnia
Meski Tasya Farasya tidak menyebutkan secara spesifik apakah ia menjalani pemeriksaan tidur medis seperti polisomnografi, banyak ahli menyarankan langkah ini sebagai bagian awal untuk memahami penyebab insomnia kronis. Diagnosis yang tepat akan membantu menentukan apakah seseorang membutuhkan sleep therapy berbasis CBT, atau perlu penanganan medis lainnya.
Dalam beberapa kasus, gangguan tidur tidak hanya disebabkan oleh kecemasan atau stres, tapi juga oleh kondisi medis seperti sleep apnea. Inilah mengapa pemeriksaan polisomnografi menjadi penting untuk mengetahui apakah ada gangguan pernapasan saat tidur yang tidak disadari.
Mengapa Tes Polisomnografi Dilakukan?
Tes polisomnografi adalah pemeriksaan yang digunakan untuk memantau aktivitas tidur seseorang secara menyeluruh. Pemeriksaan ini sangat penting untuk mengidentifikasi apakah pola tidur Anda terganggu dan apa penyebab gangguan tersebut. Melalui tes ini, dokter dapat menganalisis berbagai aspek tidur Anda, mulai dari tahapan tidur, aktivitas otak, pernapasan, detak jantung, gerakan tubuh, hingga kadar oksigen dalam darah.
Proses tidur yang normal dimulai dengan tahap yang disebut tidur non-rapid eye movement (NREM). Selama tahap ini, gelombang otak melambat secara bertahap, yang dapat terlihat melalui pemeriksaan elektroensefalogram (EEG). Setelah melewati satu hingga dua jam dalam tidur NREM, Anda akan memasuki tahap rapid eye movement (REM), di mana aktivitas otak kembali meningkat dan mata bergerak cepat ke berbagai arah. Sebagian besar mimpi terjadi selama tahap REM ini.

Kondisi yang Dapat Dideteksi dengan Polisomnografi
Tes polisomnografi umumnya disarankan oleh dokter apabila terdapat dugaan adanya gangguan tidur tertentu, seperti:
1. Apnea Tidur atau Gangguan Pernapasan Lainnya
Apnea tidur ditandai dengan henti napas berulang kali selama tidur. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah, gangguan tidur yang serius, dan risiko masalah kesehatan jangka panjang.
2. Gangguan Gerakan Tungkai Periodik
Gangguan ini menyebabkan penderita secara tidak sadar melentur dan meluruskan kaki secara berulang saat tidur. Seringkali, kondisi ini berkaitan dengan sindrom kaki gelisah, yang memicu dorongan tak tertahankan untuk menggerakkan kaki saat beristirahat, terutama di malam hari.
3. Narkolepsi
Narkolepsi adalah gangguan tidur kronis yang menyebabkan rasa kantuk berlebihan di siang hari, bahkan hingga tertidur secara tiba-tiba tanpa peringatan. Polisomnografi dapat membantu mendeteksi pola tidur abnormal yang khas pada penderita narkolepsi.
4. Gangguan Perilaku Tidur REM
Pada gangguan ini, penderita seolah "memerankan" mimpi mereka saat tidur REM, misalnya dengan berbicara, menendang, atau bahkan memukul. Polisomnografi dapat merekam aktivitas ini untuk membantu diagnosis.
5. Perilaku Tidak Normal Saat Tidur
Termasuk berjalan dalam tidur (sleepwalking), berbicara dalam tidur, atau gerakan ritmis lainnya yang terjadi selama tidur. Polisomnografi dapat mengungkap aktivitas otot dan gelombang otak yang berkaitan dengan perilaku tersebut.
6. Insomnia Kronis
Bagi sebagian orang yang mengalami kesulitan tidur dalam jangka waktu lama (insomnia kronis), tes ini bisa membantu mengevaluasi apakah gangguan tidur lain menjadi penyebab atau memperparah kondisi mereka.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya sleep apnea, dokter biasanya akan merekomendasikan penggunaan alat bantu pernapasan seperti CPAP atau BPAP. Alat ini bekerja dengan cara menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur, sehingga mencegah henti napas berulang yang bisa menurunkan kualitas tidur dan membahayakan kesehatan jantung.
CPAP vs BiPAP: Mana Yang Lebih Cocok Untuk Penderita Sleep Apnea?
Bagi penderita sleep apnea atau gangguan pernapasan saat tidur, terapi dengan alat bantu pernapasan seperti CPAP atau BiPAP bisa sangat membantu. Namun, banyak orang belum memahami perbedaan antara kedua alat ini.
Secara umum, CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) memberikan tekanan udara yang konstan untuk menjaga saluran napas tetap terbuka selama tidur. Sementara itu, BPAP (Bilevel Positive Airway Pressure) juga dikenal sebagai BiPAP memberikan dua tingkat tekanan: satu saat menarik napas (lebih tinggi), dan satu lagi saat menghembuskan napas (lebih rendah). Perbedaan ini membuat BPAP lebih nyaman digunakan oleh pasien tertentu.
| Fitur | CPAP | BiPAP |
|---|---|---|
| Tekanan Udara | Tekanan konstan / satu tingkat | Tekanan variatif: lebih tinggi saat menarik napas, lebih rendah saat menghembuskan napas |
| Pola Pernapasan | Continuous (terus-menerus) | Dua tingkat (bilevel): untuk inhale dan exhale |
| Indikasi | Obstructive sleep apnea dan mendengkur | Sleep apnea dengan kesulitan menghembuskan napas, sindrom hipoventilasi, gangguan saraf |
| Kenyamanan | Bisa terasa kurang nyaman karena tekanannya tetap | Lebih nyaman, terutama bagi yang kesulitan saat ekshalasi |
| Pengaturan | Pilihan pengaturan terbatas | Lebih fleksibel dalam mengatur tingkat tekanan udara |
Alat terapi pernapasan seperti CPAP dan BPAP kini semakin mudah ditemukan di berbagai toko alat kesehatan di Indonesia. Salah satu penyedia terpercaya yang direkomendasikan adalah Galeri Medika, yang dikenal menyediakan produk berkualitas untuk kebutuhan terapi pernapasan.Di Galeri Medika alat-alat tersebut dapat dibeli secara offline di toko fisik maupun online melalui web dan ecommerce, sehingga memudahkan Anda dalam mendapatkan CPAP, BiPAP dan alat kesehatan lainnya.
https://www.talkspace.com/blog/sleep-therapy/
https://www.verywellmind.com/sleep-therapy-definition-types-techniques-and-efficacy-5199015
https://www-helpguide-org.translate.goog/wellness/sleep/therapy-for-sleep-disorders?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc&_x_tr_hist=true
https://ameera.republika.co.id/berita/t1kybu425/tasya-farasya-alami-insomnia-akut-kini-jalani-sleep-therapy
https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/polysomnography/about/pac-20394877
https://www.resmed.co.in/blogs/cpap-vs-bipap-what-are-the-difference-how-they-work



