Dilansir dari laman BBC, sebanyak 5.626 kasus keracunan akibat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah dilaporkan di puluhan kota dan kabupaten yang tersebar di 16 provinsi. Situasi ini memunculkan dua pilihan besar. Apakah program perlu dihentikan sementara untuk dilakukan evaluasi menyeluruh atau dialihkan anggarannya ke sektor pendidikan.

Kondisi ini akhirnya mengundang pertanyaan penting, bagaimana memastikan program makan bergizi gratis tetap berjalan tanpa mengorbankan aspek higienitas dan keselamatan siswa di sekolah?

Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

Dosen Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Pramudya Kurnia, menilai kasus keracunan massal yang menimpa ribuan pelajar penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi tanda serius perlunya evaluasi menyeluruh. Ia menekankan, evaluasi tidak bisa hanya dilakukan secara internal, melainkan harus melibatkan dinas kesehatan di setiap daerah agar pengawasan berjalan efektif.

Menurut Pramudya, lemahnya pengawasan terhadap tata laksana pangan massal menjadi salah satu penyebab utama terjadinya keracunan. Karena itu, pemerintah perlu segera melakukan langkah konkret, seperti mengaudit kualitas bahan baku dan vendor penyedia, memberikan pelatihan serta sertifikasi tenaga dapur, hingga menerapkan standardisasi pada proses produksi dan distribusi makanan.

Ia juga menegaskan pentingnya edukasi dan pelatihan higienitas bagi seluruh pihak yang terlibat, termasuk kewajiban penggunaan checklist bahan baku, pengecekan tanggal kedaluwarsa, hingga kontrol ketat dalam setiap tahap rantai pasok. Dengan adanya evaluasi komprehensif, program MBG diharapkan tidak hanya memberikan manfaat gizi, tetapi juga terjamin keamanan pangannya.

Keracunan Massal di Sekolah

Pentingnya Higienitas dalam Penyediaan Makanan Sekolah

Penyediaan makanan di sekolah tidak hanya soal menyediakan nutrisi yang cukup, tetapi juga memastikan bahwa makanan tersebut aman, bersih, dan bebas dari kontaminasi. Higienitas memainkan peran krusial dalam menghindarkan siswa dari risiko keracunan. Berikut beberapa aspek penting dari higienitas dalam konteks sekolah:

  1. Kebersihan Personal Penangan Makanan
    Penangan makanan (food handlers) harus menjaga kebersihan diri: mencuci tangan secara benar, memakai pakaian pelindung seperti sarung tangan, celemek, masker jika perlu. Kebiasaan sederhana ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kontaminasi mikroba.
  2. Sanitasi dan Kebersihan Peralatan serta Tempat Penyajian dan Penyimpanan
    Wadah, peralatan makan, dapur, dan area penyajian makanan harus dibersihkan dan disanitasi secara rutin. Kondisi dapur dan peralatan yang kotor atau rusak meningkatkan risiko kontaminasi silang (cross-contamination).
  3. Sarana Fasilitas Pendukung Sanitasi
    Fasilitas seperti wastafel dengan air bersih dan sabun, toilet yang bersih, pembuangan limbah yang baik, fasilitas penyimpanan makanan yang bagus (lemari pendingin jika perlu), serta tempat sampah yang memadai. Tanpa fasilitas yang layak, kebersihan sulit dijaga.
  4. Penanganan Bahan Baku & Distribusi
    Bahan baku harus diperoleh dari sumber yang tepercaya, diperiksa mutu dan tanggal kedaluwarsanya, serta disimpan dengan cara yang sesuai dengan memerhatikan suhu dan kebersihannya. Distribusi makanan ke sekolah juga harus cepat untuk menjaga suhu agar tidak terjadi pertumbuhan bakteri.
  5. Pemantauan dan Pengawasan (Monitoring & Audit)
    Pemerintah atau dinas kesehatan daerah, sekolah, dan pihak katering harus rutin melakukan inspeksi, pengambilan sampel mikrobiologi, dan audit proses distribusi makanan. Standar atau regulasi keamanan pangan perlu ditegakkan.

Solusi Sterilisasi untuk Menjaga Keamanan Makanan

Meski berbagai aspek higienitas telah diperhatikan, praktik di lapangan sering kali menghadapi kendala seperti keterbatasan waktu, kurangnya tenaga terlatih, hingga sarana sanitasi yang belum memadai. Dalam konteks inilah, teknologi seperti alat sterilisator hadir sebagai solusi modern untuk memastikan peralatan makan, wadah penyimpanan, maupun perlengkapan dapur tetap higienis dan aman digunakan.

Alat sterilisator bekerja dengan metode tertentu, seperti uap panas, cahaya ultraviolet (UV), atau ozon, untuk membunuh kuman, bakteri, hingga virus yang berpotensi mencemari makanan. Dibandingkan metode pencucian manual, sterilisator mampu memberikan jaminan kebersihan lebih maksimal dan konsisten.

Keracunan Massal di Sekolah

Jenis-jenis Sterilisator

1. Sterilisasi Uap (Autoclave)

Sterilisasi uap atau autoclave merupakan metode sterilisasi yang paling umum digunakan dan terbukti efektif. Proses ini memanfaatkan uap bertekanan tinggi dengan suhu sekitar 120°C selama kurang lebih 30 menit untuk membunuh mikroorganisme dan spora bakteri. Kelebihannya, metode ini aman, ramah lingkungan, serta cukup ekonomis. Autoclave juga dapat mensterilkan cairan maupun menembus kemasan, sehingga penggunaannya sangat luas. Selain itu, prosesnya relatif mudah dipantau dan dikendalikan. Namun, sterilisasi uap tidak bisa digunakan pada bahan yang sensitif terhadap panas atau kelembapan, dan ada risiko luka bakar jika penanganan tidak hati-hati.

2. Sterilisasi Panas Kering

Sterilisasi panas kering adalah metode pemanasan dengan suhu tinggi tanpa menggunakan kelembapan, biasanya mencapai sekitar 180°C dalam waktu yang lebih lama. Teknik ini sangat cocok untuk bahan yang mudah rusak jika terkena uap atau bahan yang tidak dapat ditembus kelembapan, seperti bubuk, minyak, atau instrumen tajam. Keunggulannya, metode ini tidak beracun, hemat air, serta biaya operasional relatif rendah. Meski begitu, panas kering membutuhkan waktu jauh lebih lama dibandingkan uap (bisa empat hingga lima kali lebih lama) dan memiliki risiko kebakaran yang lebih tinggi. Selain itu, metode ini tidak bisa digunakan untuk mensterilkan cairan, sehingga penggunaannya lebih terbatas.

3. Sterilisasi dengan Gas Etilena Oksida (EtO)

Sterilisasi EtO menggunakan gas etilena oksida untuk menonaktifkan pertumbuhan dan pembelahan sel mikroba. Metode ini sangat bermanfaat untuk mensterilkan peralatan yang sensitif terhadap panas atau kelembapan karena gas mampu menembus bahan kemasan tanpa merusak alat. Kelebihan lainnya, EtO bisa digunakan pada berbagai jenis material dan alat medis yang rumit. Namun, kelemahan utamanya adalah sifatnya yang beracun, mudah terbakar, dan bersifat karsinogenik. Karena itu, peralatan yang telah disterilkan harus melalui proses aerasi cukup lama sebelum aman digunakan. Proses ini membuat siklus sterilisasi EtO lebih panjang, rumit, dan membutuhkan standar keamanan yang ketat.

Rekomendasi Alat Sterilisator

rekomendasi sterilisator

1. Sterilisator Kering 2 Pintu OneHealth OH-S-100 Medical Sterilizer 80 Liter

OneHealth OH-S-100 merupakan alat sterilisasi medis digunakan untuk membunuh atau menghilangkan mikroorganisme seperti bakteri, virus, dan jamur, dari suatu benda atau bahan. Sterilizer ini memiliki 2 pintu berbahan panel kaca dan dilengkapi dengan tombol sentuh yang mudah digunakan untuk menjalankan proses sterilisasi. Kapasitas lebih besar cocok digunakan di Rumah sakit, klinik dan fasilitas kesehatan lainnya.

Fitur Produk

  • Sterilizer model 2 pintu
  • Panel kaca bening dan desain stylish
  • Kontrol sentuh, hanya menekan satu tombol
  • Hemat energi
  • Disinfeksi gelombang Cahaya
  • Special bowl warming function
  • Suhu tinggi bintang dua disinfeksi 125°C
  • Kapasitas 80 liter

Beli produk? KLIK DISINI

rekomendasi sterilisator

2. Autoclave 100 Liter GEA LS-100LJ Steam Sterilizer

Autoclave atau Autoklaf biasanya digunakan dalam pengaturan perawatan kesehatan untuk mensterilkan perangkat medis. Barang yang akan disterilkan ditempatkan di dalam drum yang biasa disebut dengan chamber. Tiga faktor penting untuk memastikan keberhasilan sterilisasi uap dalam autoklaf: waktu, suhu, dan kualitas uap. Autoclave dengan merk GEA banyak digunakan dalam berbagai bidang/industri seperti alat kesehatan (alat medis rumah sakit), industri kimia, engineering, cookery, lembaga penelitian ilmiah dan organisasi lain untuk mensterilkan instrumen bedah, kain, kacamata, media kultur, dll.

Fitur Produk

  • Kapasitas 100 liter
  • Mode kerja sterilisasi : steam (uap)
  • Struktur baja sepenuhnya stainless
  • Model pembukaan pintu : releasing valve
  • Timer 0-99 min
  • Rentang suhu penyeterilan : 0-134°C
  • Rentang tekanan : 0.14 - 0.22 Mpa
  • Lampu indikator menunjukkan kondisi kerja
  • Ganda pengukur tekanan indikasi skala ganda
  • Self menggembungkan tipe segel
  • Perlindungan air kurang aman
  • Secara otomatis mematikan dengan mengingatkan bip setelah sterilisasi
  • Mudah dioperasikan, aman dan dapat diandalkan
  • Dengan dua keranjang sterilisasi stainless steel

Beli produk? KLIK DISINI