Energi yang diambil harus dikurangi dan konsumsi energi meningkat. Ini dapat dicapai dengan membuat perubahan pada kebiasaan makan, mengurangi asupan makanan dan berolahraga lebih banyak.

Beberapa saat sebelum kita bangun pagi ini, sel-sel di dalam tubuh kita sudah sibuk melakukan pembakaran. Kalor (Q) yang dihasilkan pada proses pembakaran tersebut berguna untuk menjaga badan kita tetap hangat. Ketika kita bangun dan mulai bergerak, kita membutuhkan Energi Kinetik (Ek). Kalau kita menyalakan lampu, kita baru aja mengubah Energi Listrik menjadi Energi Cahaya. Kalau kita naik tangga, maka Energi Potensial (Ep) tubuh kita naik setiap kali menaiki anak tangga. Dalam satu hari, ada berbagai macam jenis energi yang kita konsumsi.



Energi itu memang ada di mana-mana. Peradaban manusia bisa menjadi maju seperti sekarang ini karena kemampuan kita untuk bisa mengendalikan energi tersebut. Cuma masalahnya, konsumsi energi kita itu makin lama makin besar dan kita menjadi sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Kalau kita masih terus-terusan menggunakan bahan bakar yang kita gunakan sekarang (yang persediaannya terbatas), itu bisa membahayakan umat manusia itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus segera mencari solusinya nih, gimana caranya agar kita bisa terhindar dari bahaya tersebut.

Karena masalah utamanya terletak pada ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, mau ga mau kita harus segera beralihn ke sumber energi lain. Nah, artikel ini akan mengajak Anda menelusuri sumber energi lain yang bisa menjadi alternatif untuk menopang kehidupan di bumi. Tapi sebelum kita fokus pada cerita penerapannya, sebaiknya kita tahu juga dasar teori terkait solusi dari masalah energi tersebut. Dasar teorinya sebenernya nggak berat-berat amat kok. Beberapa diantaranya bahkan udah kita pelajari sejak di bangku SD, contohnya hukum kekekalan energi di bawah ini:

“Energi itu kekal; Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Energi hanya berubah bentuk dari bentuk energi yang satu menjadi bentuk energi yang lain.”

Kebutuhan kalori setiap hari masing-masing orang berbeda



Cara menghitung kebutuhan kalori tiap orang berbeda-beda, karena akan dihitung berdasarkan jenis kelamin, usia, tinggi dan berat badan, komposisi tubuh, aktivitas, hingga keadaan fisik masing-masing. Kalori yang dibutuhkan oleh laki-laki berbeda dengan perempuan meskipun berada pada rentang usia yang sama. Dua orang yang kembar sekalipun akan memiliki kebutuhan kalori yang berbeda, tergantung pada keadaan fisik dan aktivitasnya sehari-hari.

Standar asupan kalori per hari berbeda-beda di tiap negara. Di Amerika, laki-laki disarankan untuk mengonsumsi 2700 kalori per hari dan wanita 2200 kalori per harinya. Sementara berdasarkan National Health Service di Inggris, laki-laki disarankan mengonsumsi 2500 kalori dan wanita 2000 kalori. Berbeda dengan FAO yang menyarankan orang dewasa rata-rata harus mengonsumsi minimal 1800 kalori per hari.

Di Indonesia, terdapat tabel panduan angka kecukupan gizi. Tabel tersebut memuat anjuran berapa banyak kalori yang dibutuhkan oleh masing-masing kelompok umur. Sebagai contoh:

• Bayi berusia 7-11 bulan dengan berat badan 9 kg dan tinggi badan 71 cm membutuhkan energi 725 kkal per hari.
• Laki-laki berusia 19-29 tahun dengan berat badan 60 kg dan tinggi 168 cm membutuhkan energi 2725 kkal per hari.
• Wanita berusia 19-29 tahun dengan berat badan 54 kg dan tinggi 159 cm membutuhkan energi 2250 kkal per hari.
• Laki-laki berusia lebih dari 80 tahun membutuhkan energi sebesar 1525 kkal dan wanita pada usia yang sama membutuhkan energi 1425 kkal per hari.
• Bagi wanita hamil, dibutuhkan tambahan energi sebesar 180-300 kkal per harinya, tergantung pada usia trimester kehamilannya. Begitu juga dengan ibu menyusui, pada 6 bulan pertama dibutuhkan tambahan energi hingga 330 kkal dan tambahan 400 kkal pada 6 bulan berikutnya.

Berbagai cara menghitung kebutuhan kalori setiap hari

Ada beberapa cara menghitung kebutuhan kalori Anda, yaitu:

Rumus Harris-Benedict: rumus ini termasuk rumus yang sering dipakai oleh ahli gizi. Rumus Harris-Benedict memperhitungkan usia, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan, hingga level aktivitas fisik Anda.

• Rumus untuk menghitung kebutuhan energi pria yaitu= 66,5 + 13,8 x (berat badan dalam kilogram) + 5 x (tinggi badan dalam cm) dibagi dengan 6,8 x usia.
• Sementara untuk wanita= 655,1 + 9,6 x (berat badan dalam kilogram) + 1,9 x (tinggi badan dalam cm) dibagi dengan 4,7 x usia.
• Hasil dari penghitungan ini kemudian dikalikan dengan faktor aktivitas fisik. Jika aktivitas fisik Anda rendah, maka dikalikan dengan 1,2. Untuk aktivitas fisik sedang dikalikan dengan 1,3. Sementara aktivitas fisik berat dikalikan dengan 1,4.

Rumus WHO (World Health Organization): berbeda dengan rumus Harris-Benedict, rumus ini lebih sederhana dan tidak memperhitungkan tinggi badan. Rumus WHO dibagi sesuai dengan kategori umur. Sebagai contoh, untuk mencari kebutuhan energi wanita berusia 18-29 tahun, digunakan rumus 14,7 x (berat badan dalam kilogram) + 496. Sementara untuk mencari kebutuhan energi pria usia 18-29 tahun, digunakan rumus 15,3 x (berat badan dalam kilogram) + 679. Hasilnya kemudian dikalikan dengan faktor aktivitas fisik.